Konten dari Pengguna

Inkonsistensi Amerika Serikat Pada Kebijakan Luar Negerinya

Muhammad Sayyid I

Muhammad Sayyid I

International Relation Student of Sriwijaya University

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Sayyid I tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perjuangan Tentara Amerika Serikat Demi Kedaulatan Negara. Sumber: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Perjuangan Tentara Amerika Serikat Demi Kedaulatan Negara. Sumber: Pixabay

Amerika Serikat selama ini dianggap sebagai negara yang menentukan arah dunia. Namun dalam beberapa tahun terakhir, langkah kebijakan luar negeri Washington justru memperlihatkan keraguan dan perubahan posisi yang cepat. Keputusan yang tidak seragam di berbagai isu global memunculkan kesan bahwa AS sedang menghadapi krisis orientasi strategis. Fenomena ini penting dicatat, karena peran AS selama ini menjadi barometer stabilitas internasional.

Tanda-tanda kehilangan arah itu mulai terlihat jelas setelah Perang Dingin berakhir. Tanpa musuh geopolitik utama, AS tampak kesulitan membangun narasi tunggal untuk kebijakan luar negerinya. Invasi ke Afghanistan dan Irak, yang dikemas sebagai upaya menegakkan demokrasi, malah berakhir sebagai beban reputasi dan memunculkan pertanyaan mengenai legitimasi moral tindakan tersebut. Setelah itu, sulit menemukan pola yang konsisten dalam langkah diplomasi maupun militernya.

Kebijakan terhadap Timur Tengah membuat kontradiksi ini semakin gamblang. Amerika tetap memberikan dukungan kuat kepada Israel meski tekanan dan kritik internasional soal pelanggaran HAM semakin intens. Pada saat yang sama, AS kerap memberi sanksi dan tekanan terhadap negara lain atas isu yang sama. Pola ini membuat retorika demokrasi yang diklaim Washington terasa timpang dan sulit dipercaya.

Ketika negara menjadi ambigu dalam mengambil kebijakan, maka disitulah kedaulatannya sirna.

Situasi di Indo-Pasifik pun tidak kalah membingungkan. China kini menjadi tantangan besar bagi posisi global AS. Aliansi seperti QUAD, AUKUS, hingga peningkatan basis militer menunjukkan respons Amerika. Namun langkah-langkah itu terkesan reaktif dan tidak memperlihatkan peta jalan jangka panjang. Sekutu-sekutunya di kawasan kini bertanya-tanya. Apa sebenarnya strategi Amerika?menahan China semaksimal mungkin, atau hanya menjaga agar persaingan tidak menjadi konflik terbuka?

Di sisi lain, dinamika politik dalam negeri AS turut memperparah ketidakjelasan tersebut. Kebijakan global berubah mengikuti siapa yang terpilih di Gedung Putih. Perjanjian internasional yang keluar-masuk dalam kurun waktu singkat menunjukkan bahwa politik domestik kini terlalu mempengaruhi hubungan luar negeri. Bagi banyak negara, ini menimbulkan pertanyaan tentang seberapa jauh komitmen Washington bisa diandalkan.

Melihat berbagai fakta tersebut, dunia mulai mempertanyakan apakah Amerika masih memiliki visi global yang terarah. Sementara sistem internasional bergerak menuju tatanan multipolar, sikap AS justru terlihat defensif dan tanpa strategi yang solid.

Singkatnya, masa depan posisi Amerika di panggung dunia bergantung pada kemampuan Washington menemukan kembali arah yang jelas, konsisten, dan bisa dipercaya. Jika tidak, perlahan tapi pasti, negara lain akan mengisi ruang yang ditinggalkan ketika pengaruh AS semakin meredup.