Wujud Mimpi di Negeri Beton ( Hongkong )

Tulisan dari Schaaci tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Buruh Migran Indonesia kini adalah status yang tengah mengisi hari – hariku. Bukan karena keinginan terbesar dalam hidup, namun keadaan yang harus membuatku terus berjalan dengan sisa kekuatan yang ada. Awal melihat negeri yang tertata dengan susunan tembok menyerupai pencakar langit, seolah tak percaya bahwa kaki sudah berdiri atas buminya. Suara hati sempat memberontak, diri sempat menyalahkan sebuah takdir yang telah menjadi kehendak, namun akhirnya sebuah keikhlasan mampu mempertahankan sebuah niat yang terhimpit kerinduan.
Di sela – sela menjadi seorang buruh migran, terselip sebuah cita – cita yang dulu sempat menjadi satu rencana. Rencana mengubah hidup menjadi lebih baik, membahagiakan keluarga dan meraih mimpi menjadi seorang mahasiswa. Allah maha baik dari seluruh niat baik. Apa yang menjadi keinginan terkabul. Mampu membahagiakan keluarga, menjadi seorang mahasisawa, dan terus menjadi orang yang berguna dalam sebuah karya.
Membiarkan waktu terus berjalan, aku menikmati dengan segala kegiatan. Mengisi waktu liburan dengan menjadi mahasiswa Universitas Terbuka di Hongkong dan membiarkan diri berada dalam lingkaran hobi dengan literasi. Akhir tahun 2015 sebuah perjalanan ku mulai. Mendidik diri menjadi pribadi yang berguna meski terkadang rasa menyerah sering melanda. Bagiku berpikir tentang bekerja dan belajar tidaklah mudah. Namun waktu seakan membuktikan bahwa niat yang kuat akan melahirkan kekuatan untuk menjalankan keduanya.
Dengan menjadi seorang mahasiswa yang masih terus berlanjut hingga saat ini, aku terus berkarya di bidang literasi. Oktober 2017 adalah bulan yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Tulisan pertama solo dalam bentuk novel berhasil terbit dan bisa dinikmati banyak kalangan. Dari semua itu aku seakan terus berpikir bahwa seorang buruh migran juga mampu berkarya melahirkan kata untuk menceritakan kerinduan pada kampung halaman.
Banyak orang bertanya padaku, mencibir hingga meremehkan diriku.
“Mau jadi apa kamu kerja di Hongkong sambil kuliah dan menulis segala, bukankah tujuanmu kerja mencari uang ?”
Pernyataan yang selalu mengganggu pikiran kadang menjadi penghalang untukku bangkit kembali. Tetapi dengan tekad yang terus ku gali, tentang mikiran orang lain terhadapku semakin lama menghilang sendiri. Hingga akhirnya aku mampu membuktikan bahwa diriku mampu terus berjuang mendapatkan impian yang selama ini hanya terpendam.
Sebuah mimpi yang menjadi teman di negeri orang. Sebuah mimpi yang masih terus menjadi penyemangat berjalannya kaki untuk tetap kuat, dan disinilah, di negeri beton mimpi itu tengah satu per satu terwujudkan. Aku memiliki keinginan besar, jika waktu telah membawaku melihat kampung halaman, ilmu yang ku dapatkan bisa berguna terutama dalam keluarga dan masa yang akan datang. Karya yang ku tulis mampu terus memotivasi banyak orang, hingga mereka mengenalku bukan hanya karna nama namun dari sebuah karya yang ku punya.
