Pendidikan Mahal, Tapi Otak Kosong? Saatnya Revolusi!

Mahasiswi Jurusan Teknik Informatika, Universitas Katolik Santo Thomas Medan.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Secilia Irene Olivia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai mahasiswa yang sedang menapaki jenjang pendidikan tinggi, saya merasa perlu menyuarakan satu ironi besar yang ada di sekitar kita: banyak yang mengejar gelar setinggi langit, tapi lupa membangun skill dasar untuk bertahan di dunia nyata. Di Indonesia, realitas ini bukan cuma terdengar—tapi benar-benar terasa.
Tak bisa dipungkiri, budaya kita masih menjunjung tinggi “gelar” seolah-olah itu adalah jaminan masa depan cerah. Anak-anak dipacu untuk kuliah, lulus cepat, dan menyandang titel sarjana sebagai simbol keberhasilan. Tapi yang jadi masalah: apa artinya gelar tanpa kemampuan?
Faktanya, dunia kerja hari ini tak lagi bertanya, “Kamu lulusan mana?”, tapi lebih tertarik pada “Kamu bisa apa?”. Ribuan sarjana menganggur bukan karena mereka bodoh, tapi karena sistem pendidikan kita terlalu fokus pada teori dan hafalan. Kita dibekali banyak mata kuliah, tapi minim ruang untuk praktik dan eksplorasi kemampuan nyata. Akibatnya, banyak lulusan yang bingung—bukan hanya soal pekerjaan, tapi bahkan tak tahu apa potensi dirinya.
Lebih miris lagi, masih banyak mahasiswa yang menganggap IPK adalah segalanya. Mereka mengejar nilai, menghindari kegagalan, tapi lupa mengasah soft skill seperti komunikasi, problem solving, atau manajemen waktu—hal-hal yang justru paling dibutuhkan setelah lulus. Kampus pun kadang hanya jadi "pabrik ijazah", bukan tempat membentuk manusia utuh.
Ini bukan berarti gelar itu tidak penting. Tapi menjadikannya satu-satunya tujuan adalah kesalahan besar. Gelar itu hanya pembuka pintu, tapi skill adalah kunci untuk bertahan dan berkembang di dalamnya.
Sudah waktunya kita, mahasiswa, membalik arah pikir. Jangan tunggu sistem berubah duluan. Kita sendiri harus berani mencari ilmu di luar kelas, magang, ikut komunitas, belajar dari internet, bangun portofolio. Karena masa depan tidak menunggu siapa yang punya ijazah, tapi siapa yang punya kompetensi.
Dan untuk para pembuat kebijakan pendidikan: berhentilah mengukur kualitas manusia dari selembar kertas. Berikan ruang yang lebih luas untuk pembelajaran kontekstual, pembinaan karakter, dan pelatihan keterampilan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.
Gelar memang bisa dicetak. Tapi skill harus dibentuk. Dan masa depan tak bisa dibeli dengan ijazah.
Secilia Irene Olivia Mahasiswi Jurusan Teknik Informatika, Universitas Katolik Santo Thomas Medan.
