Mengapa Ada Anak yang Tumbuh Dewasa tapi Sulit Bercerita kepada Orang Tuanya?
Tulisan dari seftidiana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada hal-hal yang sebenarnya ingin diceritakan kepada orang tua, tetapi entah kenapa selalu terasa sulit untuk memulainya.
Tentang seseorang yang sedang disukai. Tentang hubungan yang sedang dijalani. Tentang perasaan yang sedang tidak baik-baik saja. Bahkan sekadar bercerita tentang masalah yang sedang dihadapi pun terkadang terasa begitu berat.
Bukan karena tidak dekat dengan orang tua. Bukan juga karena tidak menyayangi mereka.
Hanya saja, ada rasa takut yang sulit dijelaskan. Takut ditanya terlalu banyak. Takut dianggap berlebihan. Takut mendapat respons yang tidak sesuai dengan harapan. Atau mungkin, sejak kecil memang tidak pernah terbiasa menceritakan hal-hal yang bersifat pribadi.
Semakin dewasa, perasaan itu justru semakin terasa. Saya bisa bercerita tentang banyak hal kepada orang tua. Tentang kuliah, pekerjaan, teman, atau kegiatan sehari-hari. Namun, ketika pembicaraan mulai menyentuh soal perasaan dan asmara, ada bagian dari diri saya yang tiba-tiba memilih untuk diam.
Mungkin, salah satu alasannya bisa ditemukan dari bagaimana saya tumbuh.
Sejak kecil, perhatian orang tua lebih banyak tertuju pada pendidikan dan prestasi. Nilai sekolah, tugas, dan pencapaian menjadi hal-hal yang dianggap penting. Sebagai anak, saya pun terbiasa memahami bahwa menjadi anak yang baik adalah menjadi anak yang berprestasi dan tidak mengecewakan orang tua.
Tanpa disadari, pola seperti itu mungkin membuat saya lebih terbiasa berbicara tentang pencapaian daripada perasaan.
Ketika mendapat nilai bagus, saya tahu harus bercerita. Ketika ada prestasi yang diraih, saya tahu itu adalah sesuatu yang membanggakan. Tetapi ketika sedang sedih, bingung, kecewa, atau memiliki masalah pribadi, saya tidak selalu tahu bagaimana cara mengungkapkannya.
Akhirnya, saya belajar menyimpan banyak hal sendiri. Mungkin, ada banyak anak lain yang mengalami hal serupa. Mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang terlihat mandiri dan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Namun, di balik itu, ada kesulitan untuk membuka diri kepada orang-orang terdekat, termasuk orang tua.
Terlebih ketika menyangkut urusan asmara.
Bagi sebagian orang, menceritakan pasangan atau orang yang sedang disukai kepada orang tua mungkin merupakan hal yang biasa. Namun bagi sebagian lainnya, hal itu justru terasa seperti membuka pintu menuju ruang pribadi yang selama ini dijaga rapat-rapat.
Ada rasa takut jika pilihan kita tidak diterima. Takut jika hubungan yang sedang dijalani justru dipertanyakan. Takut jika orang tua memberikan penilaian sebelum kita sendiri benar-benar memahami perasaan yang sedang kita rasakan.
Pada akhirnya, bukan berarti kita tidak membutuhkan orang tua. Justru mungkin, kita ingin sekali bisa bercerita kepada mereka. Hanya saja, ada jarak emosional yang terbentuk secara perlahan sejak masa kecil. Jarak yang mungkin tidak pernah sengaja dibuat oleh siapa pun, tetapi tumbuh dari kebiasaan komunikasi yang selama bertahun-tahun lebih banyak membicarakan kewajiban dan pencapaian daripada perasaan.
Pola asuh yang menekankan pendidikan dan prestasi tentu tidak selalu buruk. Orang tua mungkin hanya ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Mereka ingin anak memiliki masa depan yang baik dan kehidupan yang lebih mudah.
Namun, di tengah tuntutan untuk menjadi anak yang pintar dan berprestasi, terkadang ada kebutuhan lain yang tidak kalah penting: kebutuhan untuk didengarkan.
Anak mungkin tidak hanya membutuhkan pertanyaan, “Bagaimana nilaimu?”
Mereka juga membutuhkan pertanyaan sederhana seperti, “Bagaimana perasaanmu hari ini?”
Karena ketika seorang anak terbiasa memiliki ruang untuk bercerita sejak kecil, mungkin ia akan tumbuh dengan keyakinan bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk menjadi dirinya sendiri.
Termasuk ketika ia sedang jatuh cinta.
Termasuk ketika ia sedang patah hati.
Termasuk ketika ia sedang bingung menentukan pilihan hidup.
Menjadi dewasa mungkin memang membuat seseorang lebih mandiri. Tetapi mandiri bukan berarti harus selalu menyimpan semuanya sendirian.
Mungkin, bagi sebagian anak yang tumbuh dengan pola asuh seperti ini, belajar terbuka kepada orang tua adalah sebuah proses yang panjang. Tidak bisa dipaksakan dan tidak harus terjadi dalam satu malam.
Mungkin kita hanya perlu memulai dari hal-hal kecil.
Satu cerita sederhana. Satu percakapan yang lebih jujur. Satu kesempatan untuk mengatakan apa yang selama ini sulit diungkapkan.
Sebab, pada akhirnya, mungkin yang dibutuhkan bukanlah orang tua yang selalu memiliki jawaban atas semua masalah anaknya.
Terkadang, kita hanya ingin tahu bahwa ketika akhirnya berani bercerita, kita akan didengarkan.

