Gen Z dan Meme Gelap di Media Sosial: Apa Kata Psikolog?

Mahasiswa Jurusan Psikologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Seizha Defina Faudir tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa Reply "Gue Banget" di Meme Depresi Itu Bukan Sekadar Jokes
Pernahkah kamu menulis caption di sosial media atau nge-tweet sesuatu kayak gini: "gue udah nggak punya semangat hidup, tapi deadline besok jadi ya terpaksa lanjut lol" terus malah dapet banyak likes sama reply "gue banget ini"? Atau malah kamu yang ngetik "sama bestie, gue juga" di kolom komentar teman yang posting hal serupa?
Anehnya, nggak ada yang panik. Malah pada ketawa dan relate.
Ini bukan sekadar candaan receh. Kalau kita mau jujur, ada sesuatu yang jauh lebih dalam di baliknya.
Humor dan Kesehatan Mental: Pelindung atau Topeng?
Dalam psikologi, fenomena ini punya nama: humor sebagai mekanisme koping. Psikolog Rod A. Martin dan tim dari University of Western Ontario mengembangkan alat ukur bernama Humor Styles Questionnaire (HSQ) yang membagi humor menjadi empat gaya. Dua yang adaptif adalah affiliative humor (humor buat ngedeketin orang lain) dan self-enhancing humor (kemampuan nemuin sisi lucu dari situasi berat, bahkan waktu lagi sendirian). Dua yang maladaptif adalah aggressive humor dan self-defeating humor.
Self-enhancing humor ini fungsinya kayak katup tekanan. Waktu emosi terasa terlalu berat buat diungkapin langsung, bercanda jadi cara yang "aman" buat ngakuin rasa sakit itu tanpa harus beneran menghadapinya. Dalam penelitian Martin et al., orang yang punya gaya humor ini terbukti cenderung lebih jarang mengalami depresi dan kecemasan, dan secara umum merasa lebih sejahtera secara psikologis.
Gen Z dan Koneksi Sosial Lewat Meme Depresi
Ada alasan lain kenapa meme depresi begitu viral: kita nggak mau ngerasa sendirian.
Sebuah tinjauan literatur dari Pontifícia Universidade Católica do Rio Grande do Sul (2025) menemukan bahwa berbagi meme self-deprecating berfungsi sebagai escape valve, pelarian dari tekanan yang menuntut kita selalu produktif dan bahagia. Individu dalam kondisi depresif bisa merasa dirangkul dan direpresentasikan lewat meme tersebut, meski disisi lain ada resiko mereka justru semakin merasa putus harapan.
Ini sangat relevan dengan kondisi di Indonesia. Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) dari Kementerian Kesehatan tahun 2023, Gen Z usia 15 sampai 24 tahun adalah kelompok umur yang paling banyak mengalami depresi dibanding generasi lainnya. Yang lebih mengkhawatirkan, hanya 10,4% dari mereka yang benar-benar pergi mencari bantuan profesional. Artinya, sebagian besar memilih memendam atau mengekspresikannya lewat cara lain, termasuk humor.
Ketika Tawa Jadi Topeng
Tapi humor soal depresi bisa jadi pedang bermata dua.
Penelitian Stieger, Formann & Burger (2011) menunjukkan bahwa self-defeating humor, yaitu ngerendahin diri sendiri secara berlebihan buat bikin orang lain ketawa, ternyata justru erat kaitannya dengan depresi, kesepian, dan berbagai gangguan psikologis. Lebih jauh lagi, orang yang sering pakai gaya humor ini cenderung punya damaged self-esteem: harga diri yang tampak baik-baik saja di permukaan, tapi rapuh di dalamnya.
Ada bedanya antara bercanda buat ngurangin beban, sama bercanda karena nggak tau cara lain buat minta tolong. Kalau candaan soal depresi mulai terasa semakin sering, semakin gelap, dan dipakai buat menghindar dari obrolan serius, itu bukan lagi sekadar humor. Itu sinyal yang perlu didengarkan.
Jadi, Bagaimana?
Nggak ada yang salah dengan bercanda soal kondisi mental kita sendiri. Tapi mungkin sesekali, coba juga kasih ruang buat ngomong yang sebenarnya, ke teman yang dipercaya, atau ke profesional.
Karena di balik setiap tawa yang paling keras, kadang ada seseorang yang lagi nunggu untuk didengar.
________________________________________________
Oleh Seizha Defina Faudir dan Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog
