Konten dari Pengguna

13 Tokoh Perjanjian Renville yang Penting Diketahui

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Tokoh Perjanjian Renville. Sumber: Pavel Danilyuk/Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Tokoh Perjanjian Renville. Sumber: Pavel Danilyuk/Pexels.com

Perjanjian Renville adalah perundingan Indonesia dengan Belanda yang terjadi di atas kapal Amerika Serikat, yakni USS Renville, pada tanggal 8 Desember 1947.

Tokoh Perjanjian Renville terdiri atas delegasi Indonesia dan Belanda. Adapun latar belakang munculnya Perjanjian Renville adalah pertikaian Belanda dan Indonesia.

Lalu, siapa saja tokohnya? Agar semakin jelas, simak ulasan di bawah ini!

Tokoh Perjanjian Renville

Ilustrasi: Tokoh Perjanjian Renville. Sumber: Mikhail Nilov/pexels.com

Audrey Kahin dalam buku berjudul Dari Pemberontakan ke Integrasi Sumatra Barat dan Politik Indonesia menjelaskan bahwa agresi militer Belanda pada tahun 1947 telah melanggar Perjanjian Linggarjati yang sudah disepakati sebelumnya.

Perilaku ini mendapat kecaman masyarakat internasional, kemudian dibawa ke forum PBB oleh India dan Australia. Selanjutnya, Dewan Keamanan PBB membentuk Komisi Tiga Negara (KTN) dengan tujuan mencari solusi atas konflik Belanda-Indonesia secara damai.

Atas upaya komite tersebut, delegasi RI dan Belanda melakukan perundingan pada Desember 1947 di Kapal Renville Amerika Serikat yang kala itu berlabuh di lepas pantai Jawa.

Perundingan tersebut menghadirkan beberapa tokoh, yakni:

1. Delegasi Indonesia

  • Amir Syarifuddin sebagai ketua

  • Ali Sastroamijoyo

  • H. Agus Salim

  • Dr. Coatik Len

  • Dr. J. Leimena

  • Nasrun

2. Delegasi Belanda

  • R. Abdul Kadir Wijoyoatmojo sebagai ketua

  • Mr. H.A.L. Van Vredenburg

  • Mr. Dr. Chr. Soumokil

  • Dr.P.J. Koets

3. PBB Menjadi Mediator

  • Frank Graham sebagai ketua

  • Richard Klrby

  • Paul Van Zeeland

Dampak Perjanjian Renville

Pada perjanjian tersebut, Amir Syarifuddin yang masa itu menjadi Perdana Menteri Republik Indonesia sejak diangkat pada Juli 1947, ia pun secara terpaksa menandatangani Perjanjian Renville.

Persetujuan tersebut mengumumkan gencatan senjata kedua belah pihak, namun kawasan-kawasan yang sudah diduduki Belanda harus diakui sebagai wilayah kekuasaannya (garis gencatan senjata Van Mook).

Syaratnya adalah di wilayah tersebut segera dilakukan plebisit dengan tujuan mengetahui keinginan rakyat dan menentukan pihak mana yang berkuasa serta memerintah di sana.

Kemudian, Hatta diminta kembali ke Jawa pada Januari 1948 saat Perjanjian Renville berlangsung. Namun, akibat oposisi semakin luas pada Perjanjian Renville mengakibatkan kabinet Amir Syarifuddin jatuh dan Soekarno menunjuk Hatta sebagai perdana menteri dan menteri pertahanan.

Hasil Perjanjian Renville sebenarnya cukup merugikan Indonesia, seperti perekonomian Indonesia diblokade Belanda. Bukan hanya itu, Perjanjian Renville memicu pemberontakan di Madiun pada 1948 dan membuat konflik politik Indonesia semakin parah dan kacau.

Demikianlah penjelasan tentang tokoh Perjanjian Renville hingga dampaknya yang perlu diketahui. Semoga bermanfaat! (Ek)