3 Larangan Bulan Sunda yang Masih Dipercaya hingga Masa Kini

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kepercayaan terhadap larangan bulan Sunda merupakan bagian dari warisan budaya yang masih hidup dalam masyarakat Sunda hingga kini.
Larangan ini berkaitan dengan waktu-waktu tertentu yang dianggap kurang baik untuk melakukan aktivitas penting seperti pernikahan, pindah rumah, atau memulai usaha.
Berdasarkan sistem penanggalan tradisional, larangan ini muncul dari konsep Kala dan arah mata angin yang menjadi pedoman dalam menentukan hari baik dan hari naas.
Larangan Bulan Sunda yang Masih Dipercaya hingga Masa Kini
Mengutip dari situs stekom.ac.id, berikut adalah beberapa larangan bulan Sunda yang masih dipercaya hingga masa kini
1. Larangan Bulan Muharram, Safar, dan Mulud
Dalam kepercayaan larangan bulan Sunda, bulan Safar termasuk yang paling dihindari untuk mengadakan pernikahan.
Hari Sabtu dan Minggu pada bulan ini diyakini kurang baik karena Kala berada di arah timur. Masyarakat percaya bahwa menikah di bulan Safar bisa membawa ketidaklanggengan dan kesulitan memiliki keturunan.
Kepercayaan ini bahkan memengaruhi aktivitas bisnis seperti jasa pernikahan yang sepi pesanan selama bulan tersebut.
2. Larangan Bulan Silih Mulud, Jumadil Awal, dan Jumadil Akhir
Pada bulan-bulan ini, terutama Rabiul Akhir hingga Jumadil Akhir, larangan berlaku pada hari Senin dan Selasa.
Dalam sistem larangan bulan Sunda, hari-hari ini dianggap tidak baik untuk memulai pembangunan rumah, pindah tempat tinggal, atau membuka usaha baru. Arah Kala yang berada di selatan menandakan potensi hambatan jika aturan ini dilanggar.
3. Larangan Bulan Rajab, Ruwah, dan Puasa
Pada rentang waktu antara bulan Rajab hingga Ramadan, terdapat kepercayaan khusus yang melarang beberapa aktivitas penting dilakukan, terutama saat hari Rabu dan Kamis ketika Kala mengarah ke barat.
Larangan ini berasal dari tradisi turun-temurun yang meyakini bahwa waktu tersebut menyimpan potensi gangguan dari energi negatif.
Karena itu, kegiatan seperti merenovasi rumah, bepergian jarak jauh, atau memulai usaha baru sebaiknya ditunda demi keselamatan dan kelancaran.
Meski terdengar sederhana, keyakinan ini menjadi salah satu cara masyarakat menjaga keharmonisan hidup dengan memperhatikan waktu-waktu yang dianggap sakral dan penuh makna spiritual.
Larangan bulan Sunda bukanlah larangan mutlak, melainkan bentuk kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Di tengah arus modernitas, kepercayaan ini masih dijalankan oleh masyarakat tradisional sebagai bentuk keharmonisan hidup dengan alam dan waktu. (Echi)
Baca juga: Mitos Gunung Ciremai, Gunung Tertinggi di Jawa Barat
