3 Mitos soal Rumah di Indonesia yang Masih Dipercaya hingga Kini

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masyarakat Indonesia masih banyak yang mempercayai mitos turun temurun. Deretan mitos soal rumah di Indonesia menjadi salah satu mitos yang masih dipercaya hingga kini.
Mengutip dari Fungsi Mitos dalam Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Pendukungnya, oleh S Iswidayanti, (2007), dalam situs journal.unnes.ac.id, mitos mencerminkan kebudayaan dan cenderung menyampaikan pesan-pesan yang bersifat transformatif.
Pesan transformatif dalam mitos biasanya terpadu dalam satu mitos, ataupun bisa terwujud dalam versi baru dalam mitos yang sama. Mitos merupakan cermin dari suatu kebudayaan pendukungnya.
Mitos soal Rumah di Indonesia
Ada beberapa mitos soal rumah di Indonesia yang sampai saat ini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat. Berikut adalah deretan mitos soal rumah di Indonesia yang paling terkenal di masyarakat sekitar.
1. Larangan Membangun Rumah Bertingkat
Larangan mitos ini beredar di daerah Darmaraja-Sumedang. Filsafat dari mitos ini sendiri diestafetkan melalui lisan dari satu generasi ke generasi lainnya.
Dikutip dari Metafisika Kehadiran dalam Mitos Larangan Membangun Rumah Bertingkat sebagai Kearifan Lokal di Darmaraja-Sumedang, oleh Mochamad Ziaul et al, (2023), mitos larangan membuat bangunan bertingkat ini memiliki isi di antaranya:
“Taktak ulah ngaluhuran sirah” makna letterlock berarti “bahu tidak boleh lebih tinggi dari kepala” yang mana makna harfiahnya berarti “Tidak boleh bertempat lebih tinggi dari leluhur.”
Sekalipun mitos ini tidak didasarkan pada sejarah baku (historis) esensinya tidak membuatnya jadi tidak menyejarah (ahistoris).
2. Mitos Rumah Tusuk Sate
Mitos ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Dikutip dari buku yang berjudul Eksistensi Dunia Roh, oleh Sudiyono, Ruth Purweni, (305:2024), jika disebut jenis "Tusuk Sate", rumah itu sulit laku.
Orang yang membeli akan pikir panjang. Takut, kalau dibeli membawa sial. Rumah Tusuk Sate artinya rumah yang berada tepat di tengah lajur T, atau rumah yang memotong lajur pertigaan sehingga jalan tersebut menjadi buntu.
Di tengah masyarakat, beredar beragam keyakinan bahwa rumah yang berada di posisi tertentu dianggap membawa kesialan.
Penghuni rumah sering mudah tersulut emosi sehingga pasangan suami istri kerap terlibat pertengkaran, ditambah dengan berbagai mitos lainnya.
Beberapa orang bahkan meyakini bahwa rumah yang berada di posisi “tusuk sate” cenderung menyebabkan ketidakharmonisan dengan tetangga sekitar.
3. Mitos Tidak Boleh Pindah atau Membangun Rumah pada Malam 1 Suro
Mitos ini masih banyak dipercaya, khususnya oleh masyarakat Jawa. Malam 1 Suro adalah malam pertama dalam bulan Suro, yaitu bulan pertama dalam kalender Jawa yang bertepatan dengan bulan Muharram.
Mengutip dari Mistik Kejawen dalam Film Satu Suro, oleh Dewi Agustina Pratiwi et al, (2021), dalam situs ijccd.umsida.ac.id, melakukan pindahan rumah tidak diperbolehkan pada malam 1 suro.
Kepercayaan terhadap mitos tersebut muncul karena masyarakat Jawa meyakini bahwa setiap aktivitas yang dilakukan sebaiknya disesuaikan dengan primbon untuk menentukan waktu atau hari yang dianggap baik.
Cara pandang masyarakat Jawa yang banyak dipengaruhi oleh mitos dan unsur mistis menjadikan perilaku mereka erat kaitannya dengan kepercayaan terhadap hal-hal tertentu.
Itulah deretan mitos soal rumah di Indonesia yang masih dipercaya hingga kini. Mitos sering kali diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari kearifan lokal. (IF)
Baca juga: Mitos Rumah Dimasuki Capung yang Perlu Diketahui
