Konten dari Pengguna

3 Pantangan Naik Gunung Penanggungan yang Masih Diyakini oleh Pendaki

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pantangan Naik Gunung Penanggungan. Foto: Unsplash/ Amperiano Yuniawan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pantangan Naik Gunung Penanggungan. Foto: Unsplash/ Amperiano Yuniawan

Pantangan naik Gunung Penanggungan kerap menjadi topik pembicaraan di kalangan para pendaki, terutama yang sudah berpengalaman menjelajahi jalur-jalur pendakian di Jawa Timur.

Gunung ini memang tidak setinggi gunung-gunung lain di sekitarnya, namun memiliki aura yang khas, dan nuansa spiritual yang begitu kuat.

Banyak yang percaya bahwa mematuhi pantangan bukan sekadar soal kepercayaan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap alam, sejarah, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh leluhur.

Pantangan Naik Gunung Penanggungan

Ilustrasi Pantangan Naik Gunung Penanggungan. Foto: Unsplash/ Vera

Pantangan naik Gunung Penanggungan menjadi semacam pedoman tak tertulis yang dipercaya dapat memberikan keselamatan, dan kelancaran selama proses pendakian.

Mengutip dari ejournal.unesa.ac.id, Gunung Penanggungan yang juga disebut Gunung Pawitra adalah gunung berapi dengan ketinggian 1.653 mdpl terletak di Jawa Timur, tepatnya berada di antara Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan.

Dipercaya sebagai bagian puncak Mahameru yang dipindahkan oleh para dewa untuk menstabilkan Pulau Jawa. Gunung ini termasuk salah satu dari sembilan gunung suci di Jawa, dan menyimpan banyak peninggalan Hindu-Budha seperti candi dan tempat pertapaan.

Puncaknya diyakini dihuni makhluk halus, membawa ketenangan bagi yang berniat baik, namun bisa berbahaya jika dilanggar secara etika atau spiritual.

1. Dilarang Membawa Niat Buruk

Pendaki ataupun pengunjung harus datang dengan niat baik dan penuh rasa hormat. Niat buruk diyakini dapat mengundang gangguan spiritual.

2. Menjaga Tata Krama dan Sopan Santun

Wajib bersikap sopan, baik dalam ucapan maupun perilaku. Berteriak, mengumpat, atau berperilaku kasar dilarang keras.

3. Dilarang Membawa Benda Bertuah (Jimat)

Benda-benda mistik dianggap bisa mengganggu keseimbangan spiritual. Bisa memicu hal-hal tak diinginkan selama berada di gunung.

Dengan adanya kepercayaan yang berkembang di sekitar gunung ini, para pendaki diharapkan dapat menjalani pendakian dengan sikap yang lebih menghargai alam dan nilai-nilai lokal.

Pantangan naik Gunung Penanggungan bukan semata-mata tentang larangan, tetapi lebih kepada pembentukan karakter, dan kedisiplinan saat berinteraksi dengan alam yang sakral. (Idaf)

Baca Juga: Mitos Burung Jalak di Gunung, Sering Dianggap sebagai Penjaga Alam Gaib