3 Upacara Adat Suku Tengger yang Masih Dilestarikan

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Upacara adat Suku Tengger terdiri lebih dari 18 jenis upacara yang dilaksanakan setiap tahunnya. Tiga diantaranya merupakan upacara terbesar, yaitu Unan-unan, Kasada, dan Karo.
Artikel di bawah ini akan membahas lebih lanjut tentang tiga upacara adat Suku Tengger yang masih dilakukan hingga saat ini.
Upacara Adat Suku Tengger
Suku Tengger adalah masyarakat yang tinggal di kawasan Tengger yang berada di kaki Gunung Bromo. Wilayah Tengger terbagi menjadi empat kabupaten, yaitu Malang, lumajang, Probolinggo, dan Pasuruan.
Dalam buku Upacara Unan-unan Tengger karya Sony dan Rahmi, dikatakan bahwa Suku Tengger memegang teguh Titi Luri atau memiliki akar kultural yang kuat.
Bagi mereka, upacara adat bukan hanya ritual warisan leluhur, tapi juga merupakan cara atau bentuk dari hubungan masyarakat Tengger dengan alam.
Berikut adalah tiga upacara adat Suku Tengger yang paling besar, yakni:
1. Unan-unan
Upacara unan-unan diadakan dengan tujuan Ayu Lumahing Bumi dan Kureping Langit atau berarti mempercantik permukaan bumi dan di bawah langit.
Upacara ini dipimpin seorang dukun atau pendeta yang bertugas memimpin upacara keagamaan setiap 4 - 5 bulan sekali. Dukun atau pendeta akan membacakan sebuah mantra menggunakan bahasa Sansekerta.
Tujuannya untuk membersihkan desa dari gangguan makhluk halus. Selain itu, menyucikan arwah-arwah yang belum sempurna, agar mereka dapat kembali ke alam asal yang sempurna.
2. Kasada
Upacara ini sangat erat kaitannya dengan asal-usul nenek moyang suku Tengger yang mendiami lereng Gunung Bromo. Kasada diadakan setiap tahun pada bulan ke-10 kalender Jawa.
Upacara ini dilakukan di Pura Luhur Poten. Inti dari upacara ini adalah berdoa dan pemberian sesaji atau persembahan hasil Bumi ke dalam kawah Gunung Bromo.
Prosesi diawali dengan pementasan tarian tradisional kisah Roro Anteng dan Jaka Seger. Setelah itu dilakukan pelantikan dukun dan pemberkatan umat.
3. Karo
Upacara Karo bertujuan untuk memanjatkan puji syukur terhadap Sang Pencipta. Ritual ini juga dikenal dengan nama riyaya yang menjadi sarana penyucian diri dan penghormatan kepada nenek moyang.
Upacara ini biasanya dilakukan di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Upacara dilakukan selama 15 hari mulai hari ketujuh di bulan Karo.
Seorang dukun akan membacakan mantra yang telah diwariskan oleh leluhur. Ritual dimulai dengan acara selamatan Ping Pitu dan diakhiri dengan sadranan.
Demikian adalah tiga upacara adat Suku Tengger yang masih dilestarikan hingga saat ini. (SP)
