3 Urban Legend Sulawesi yang Paling Seram dan Masih Diperbincangkan

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Urban legend Sulawesi menyimpan kisah-kisah menyeramkan yang diwariskan secara turun-temurun. Legenda-legenda ini tidak hanya menjadi cerita rakyat, tetapi juga mencerminkan kepercayaan dan budaya masyarakat setempat.
Dikutip dari buku Matinya Sang Tadulako, Jamrin Abubakar, 2013:45, cerita-cerita rakyat dari Sulawesi tidak hanya memiliki unsur mistis, tetapi juga memuat nilai-nilai sosial yang terus dipertahankan hingga kini.
Urban Legend Sulawesi
Berikut ini adalah tiga urban legend Sulawesi yang paling seram dan masih diperbincangkan hingga sekarang.
1. Hantu Kandole Sulawesi Tenggara
Urban legend Sulawesi yang pertama berasal dari Sulawesi Tenggara, yaitu Hantu Kandole. Makhluk ini digambarkan sebagai wanita cantik yang menggoda pria untuk menjadi mangsanya.
Konon, Hantu Kandole muncul akibat pembantaian wanita di masa lalu, di mana korban dibuang ke hutan setelah dibunuh secara tidak senonoh.
Beberapa versi menyebutkan bahwa makhluk ini adalah jin penghuni hutan yang hidup berkelompok. Hantu Kandole dapat berubah menjadi sosok menyeramkan jika merasa terganggu oleh perbuatan manusia.
2. Nenek Pakande
Urban legend Sulawesi berikutnya adalah Nenek Pakande dari Sulawesi Selatan.
Legenda ini menceritakan tentang seorang nenek siluman pemakan bayi dan anak-anak yang meneror sebuah desa.
Anak-anak sering hilang tanpa jejak, sehingga warga mencurigai Nenek Pakande sebagai pelakunya.
Dengan dipimpin oleh pemuda bernama La Beddu, warga berhasil mengusir Nenek Pakande dengan menakut-nakutinya menggunakan raksasa besar. Namun, sebelum pergi, Nenek Pakande meninggalkan pesan bahwa dia akan terus mengawasi anak-anak dari kejauhan.
3. Matinya Sang Tadulako
Urban legend Sulawesi yang terakhir adalah kisah "Matinya Sang Tadulako" dari Sulawesi Tengah.
Sang Tadulako adalah panglima perang yang tak terkalahkan dan berhasil membebaskan Tanah Lore dari penaklukan suku-suku lain. Namun, dalam pengembaraan cintanya, ia dikhianati oleh kekasihnya yang menumbuk kepalanya dengan alu hingga tewas.
Kisah ini menunjukkan bahwa bahkan kesatria terkuat pun dapat jatuh karena pengkhianatan cinta.
Ketiga urban legend Sulawesi ini tidak hanya menyajikan kisah-kisah menyeramkan, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai budaya dan kepercayaan masyarakat setempat.
Meskipun zaman telah berubah, cerita-cerita ini tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas budaya Sulawesi. Melalui legenda-legenda ini, generasi muda dapat memahami dan menghargai warisan budaya yang kaya dan beragam. (Mona)
Baca Juga: Legenda Danau Tondano yang Populer Hingga Kini
