4 Pantangan Naik Gunung Slamet yang Dipercaya hingga Kini

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pantangan naik Gunung Slamet sering menjadi perbincangan di kalangan pendaki karena dipercaya berkaitan erat dengan keselamatan selama pendakian.
Meski terlihat seperti mitos, banyak yang meyakini bahwa mematuhi aturan tak tertulis ini dapat membantu menghindari berbagai hal yang tak diinginkan di perjalanan.
Mengutip dari repository.ump.ac.id, Gunung Slamet merupakan gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa, dengan ketinggian 3.432 mdpl. Gunung berapi aktif ini terletak di antara 4 kabupaten, yaitu Banyumas, Purbalingga, Tegal, dan Brebes.
Pantangan Naik Gunung Slamet
Pantangan naik Gunung Slamet bukan hanya sekedar cerita turun-temurun, melainkan bagian dari kearifan lokal yang dijaga oleh para pendaki maupun masyarakat sekitar.
Mengutip dari repository.ump.ac.id, menurut cerita orang tua, Gunung Slamet sedikit berbeda dengan gunung lain di tanah Jawa, yang sering menjadi tujuan pendakian, baik oleh warga lokal maupun pendaki dari luar daerah.
Pendakian di gunung ini tidak hanya dilakukan untuk kepentingan wisata, melainkan juga sering dikaitkan dengan tujuan spiritual.
Oleh karena itu, sebelum memulai pendakian, dahulu pendaki diharuskan membawa perlengkapan khusus seperti bunga dan kemenyan, serta ditemani oleh seorang juru kunci.
Kini, meski perlengkapan tersebut tidak lagi wajib dibawa, masyarakat masih memegang teguh kepercayaan terhadap hal-hal mistis yang berkaitan dengan gunung tersebut. Terdapat sejumlah pantangan yang diyakini harus ditaati oleh para pendaki.
1. Dilarang Berkata Sembarangan
Pendaki dilarang mengucapkan kata-kata kasar, kotor, atau tidak sopan selama berada di wilayah Gunung Slamet. Masyarakat meyakini bahwa ucapan seperti ini dapat mengundang hal buruk, atau gangguan dari alam gaib penjaga gunung.
2. Dilarang Berniat Buruk saat Mendaki
Niat mendaki harus bersih dan positif. Pendakian dengan tujuan yang bersifat merusak, menghina, atau sekadar coba-coba tanpa niat baik diyakini akan membawa kesialan atau hal-hal yang tidak diinginkan.
3. Hindari Bersikap Tidak Sopan
Tingkah laku yang tidak menghargai alam, bersikap arogan sangat dilarang. Masyarakat percaya bahwa sikap seperti ini akan mendapat peringatan dari kekuatan gaib penjaga Gunung Slamet.
4. Jangan Mengeluh dan Memegang Lutut
Ini adalah pantangan yang cukup unik. Pendaki dilarang mengeluh karena kelelahan sambil memegang lututnya. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, hal ini diyakini akan membuat pendaki tersebut tidak akan pernah mencapai puncak gunung.
Pantangan naik Gunung Slamet merupakan bentuk penghormatan terhadap alam, dan budaya lokal. Terlepas dari benar atau tidaknya, mengikuti pantangan ini menunjukkan sikap bijak, dan rasa tanggung jawab saat menikmati keindahan alam Gunung Slamet. (Idaf)
Baca juga: Mitos Mendaki di Gunung yang Sering Diabaikan Pendaki Pemula
