5 Kelemahan Teori Gujarat, Proses Masuknya Islam di Indonesia

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kelemahan teori Gujarat dapat mematahkan pendapat bahwa masuknya Islam di Indonesia dibawa oleh orang India.
Dikutip dari buku Sejarah Masyarakat Islam Indonesia oleh Sarkawi B. Husain, beberapa sarjana Belanda percaya bahwa asal Islam di Nusantara, yaitu Anak Benua India, bukan Arab atau Persia.
Pendapat tersebut kemudian dikembangkan Snouck Hurgronje dengan mengatakan bahwa Islam mempunyai pengaruh kuat di India Selatan. Meski demikian, terdapat beberapa kelemahan dari teori India atau teori Gujarat. Apa saja?
Mengenal Teori Gujarat
Teori Gujarat atau teori India menjelaskan proses masuknya Islam ke Nusantara yang dipercaya berasal dari India. Menurut teori ini, orang Arab dengan mazhab Syafi’i yang melakukan migrasi merupakan pihak yang membawa Islam ke tanah Indonesia.
Teori Gujarat lalu dikembangkan Snouck Hurgronje dengan pernyataan bahwa ketika Islam berpengaruh kuat di kota India Selatan, tak sedikit muslim Dakka yang berperan sebagai pedagang perantara dalam transaksi perdagangan antara Indonesia dan Timur Tengah.
Dalam teori ini, dipercaya bahwa Islam pertama kali disebarkan di Kepulauan Melayu yang kemudian diikuti orang Arab. Penyebaran Islam di Indonesia dimulai sejak abad ke-12. Pada waktu itu, pedagang Gujarat sampai di Indonesia setelah melewati Selat Malaka.
Kelemahan Teori Gujarat
Di samping berbagai kelebihan teori Gujarat, terdapat pula kelemahannya, yakni:
Teori Gujarat tidak mampu menjelaskan alasan kenapa Islam di Indonesia lebih banyak mendapat pengaruh dari mazhab Syafi’i dibandingkan mazhab Hanafi. Padahal, mazhab Syafi’i berasal dari Timur Tengah, sedangkan mazhab Hanafi dari India.
Tidak bisa menjelaskan waktu penerimaan agama Islam yang berbeda pada tiap wilayahnya. Pasalnya, teori Gujarat berpendapat bahwa Islam masuk ke Nusantara secara merata dan seretak.
Tidak bisa merinci proses penyebaran Islam dari Gujarat ke seluruh wilayah Indonesia. Dalam teori hanya dijelaskan bahwa pedagang Gujarat menetap di Indonesia karena menunggu datangnya angin musim. Tapi, tidak ada penjelasan bagaimana mereka memberi pengaruh tentang agama dan kepercayaan.
Tidak bisa menjelaskan alasan banyaknya kesamaan antara Islam di Indonesia dan Islam di Turki serta Persia. Misalnya, tarekat dan tasawuf.
Tidak dapat menjelaskan alasan Islam di Nusantara mempunyai keberagaam di berbagai wilayah. Pasalnya, teori ini mengatakan bahwa Islam di Indonesia hanya berasal dari Gujarat.
Itu dia sekilas pembahasan mengenai kelemahan teori Gujarat.(LAU)
