5 Pantangan ke Sarangan yang Wajib Dihindari Wisatawan

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pantangan ke Sarangan bukan sekadar mitos belaka, melainkan bagian dari kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat sekitar.
Danau Sarangan, yang terletak di lereng Gunung Lawu, menyimpan berbagai cerita dan kepercayaan yang membuatnya semakin misterius dan menarik untuk ditelusuri.
Pantangan ke Sarangan untuk Para Wisatawan
Pantangan ke Sarangan bukan hanya cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan bagian dari nilai-nilai kultural yang masih dipercaya dan dijaga oleh masyarakat di sekitar Danau Sarangan.
Dikutip dari jurnal Analisis Fungsi Legenda Telaga Sarangan Di Kelurahan Sarangan Kec. Plaosan Kab. Magetan Jawa Timur oleh Sari Ani (2019), Telaga Sarangan kerap dijadikan tempat ngalap berkah oleh masyarakat misalnya melalui ritual pesugihan.
Berdasarkan cerita yang beredar, setiap Jumat Legi, orang-orang yang ingin mencari berkah biasanya membakar menyan dan meletakkan sesaji di bawah pohon bolu yang berada di timur Hotel Kintamani.
Pohon yang dipercaya sebagai pusat persembahan dan gerbang menuju alam gaib. Selain itu, Telaga Sarangan juga menjadi tempat untuk menunaikan nadzar atau syukuran ketika suatu hajat terkabul.
Seperti terbebas dari hutang atau sembuh dari penyakit, yang biasanya diwujudkan dengan menggelar selamatan, mulai dari melarung tumpeng kecil ke telaga hingga mengundang warga untuk berdoa bersama.
Namun, di balik keindahan dan peran pentingnya, terdapat sejumlah pantangan yang wajib dihormati oleh para wisatawan demi keselamatan dan kenyamanan bersama.
1. Dilarang Mengucapkan Kata “Lurah”
Salah satu pantangan paling terkenal saat mengunjungi Sarangan adalah larangan mengucapkan kata “lurah”. Konon, kata tersebut bisa memicu hal-hal gaib yang mengganggu ketenangan alam dan energi spiritual di kawasan tersebut.
Warga setempat menyarankan wisatawan untuk mengganti kata tersebut dengan sebutan lain seperti “pak/kepala desa” jika memang perlu.
2. Jangan Mengambil atau Membawa Pulang Benda dari Sekitar Danau
Pengunjung dilarang keras mengambil batu, tanah, atau benda apapun dari kawasan Danau Sarangan sebagai oleh-oleh. Hal ini dipercaya dapat membawa kesialan atau gangguan gaib bagi yang melanggarnya.
Warga meyakini bahwa unsur-unsur alam di sekitar danau memiliki "penjaga", dan mengganggu keseimbangannya dapat berakibat buruk.
3. Menghindari Perilaku Tidak Sopan atau Menghina Tempat
Meski terdengar umum, pantangan ini sangat ditekankan di Sarangan. Berbicara kasar, meremehkan tempat, atau tertawa berlebihan dianggap bisa mengganggu suasana mistis dan menyinggung penghuni gaib yang diyakini ada di sekitar danau.
4. Tidak Melakukan Aktivitas Mistis atau Ritual Tanpa Izin
Beberapa orang mungkin datang ke Sarangan untuk keperluan spiritual atau ritual tertentu. Namun, melakukan kegiatan semacam itu tanpa izin dari tokoh adat atau juru kunci setempat sangat tidak disarankan.
Selain melanggar norma lokal, hal ini juga dapat memicu konsekuensi yang tak diinginkan.
5. Menghindari Berkunjung Saat Malam Jumat Kliwon Sendirian
Malam Jumat Kliwon dianggap sebagai waktu yang sakral dan penuh energi gaib di Jawa, termasuk di Sarangan.
Beberapa kejadian aneh sering dilaporkan terjadi pada malam ini, terutama jika seseorang berkunjung sendirian. Sebaiknya hindari berada di area danau saat malam ini tanpa pendamping atau keperluan yang jelas.
Pantangan ke Sarangan bukan sekadar larangan tanpa alasan, melainkan cerminan dari kearifan lokal yang telah dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat sekitar.
Dengan memahami dan menghormati pantangan tersebut, wisatawan tidak hanya menjaga keharmonisan dengan alam dan nilai budaya setempat, tetapi juga turut menciptakan suasana wisata yang aman dan nyaman. (shr)
Baca juga: Mitos Pacaran di Air Terjun Sedudo yang Banyak Dipercaya
