Konten dari Pengguna

5 Tradisi Suku Sasak dan Filosofinya yang Menarik

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Tradisi Suku Sasak. Sumber: NATASHA LOIS/Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Tradisi Suku Sasak. Sumber: NATASHA LOIS/Pexels.com

Suku Sasak mempunyai beragam tradisi yang hanya dapat ditemukan di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tradisi Suku Sasak mengandung filosofi yang menarik dan memperkaya kekayaan budaya bangsa Indonesia.

Untuk mengetahui lebih lanjut, simak penjelasan berikut!

Tradisi Suku Sasak dan Filosofinya

Ilustrasi: Tradisi Suku Sasak. Sumber: Ahmad Farhan/Pexels.com

Abdul Muti dalam buku berjudul Suku Sasak menjelaskan bahwa Suku Sasak diperkirakan sudah berada dan mendiami Pulau Lombok sejak 4.000 SM. Suku Sasak mempunyai beragam tradisi, inilah beberapa di antaranya:

1. Tradisi Peresean

Tradisi Peresean merupakan tradisi yang dilakukan dua pria Suku Sasak dan mereka bertarung seperti gladiator. Tradisi ini bukan hanya sekedar pertunjukkan untuk adu kekuatan, tapi mempunyai filosofi tersendiri, yaitu:

  • Menyeleksi para prajurit pada masa berdirinya Kerajaan Lombok.

  • Tradisi ini bertujuan meminta hujan dan sering dilaksanakan pada bulan ke-7 mengikuti kalender suku sasak.

2. Bau Nyale

Bau Nyale merupakan tradisi dari Suku Sasak dengan cara berbondong-bondong menuju laut untuk mencari nyale atau dikenal sebagai cacing laut. Bau Nyale artinya menangkap cacing laut atau dalam ilmiah sejenis filumannelida.

Filosofi tradisi bau nyale adalah sebagai simbol kemakmuran daerah Lombok dan tanda keberkahan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Hal inilah kenapa tradisi bau nyale menjadi festival perayaan yang sangat ditunggu warga Lombok.

Tradisi bau nyale diselenggarakan di kawasan Pantai Seger, Pantai Tanjung A’an, Pantai Kute, serta Pantai Mulok atau Pantai Pondok Dende. Pelaksanaan tradisi bau nyale adalah setiap tanggal 20 bulan 10 sesuai penanggalan Suku Sasak.

3. Kawin Culik atau Merarik

Tradisi Suku Sasak selanjutnya tentang pernikahan yang unik, yakni Merarik atau kawin lari. Tradisi ini berlangsung dengan calon pengantin pria yang menculik calon pengantin wanita sekitar tiga hari ke lokasi tertentu tanpa sepengetahuan orang tuanya.

Selanjutnya, orang tua calon pengantin wanita akan melakukan penebusan anaknya yang diculik. Kemudian, mereka melanjutkan musyawarah tentang pernikahan keduanya. Filosofi tentang tradisi ini adalah nilai silaturahmi antar kedua calon pengantin.

4. Gendang Beleq

Tradisi Suku Sasak iki jenisnya alat musik tradisional. Gendang beleq menjadi budaya yang terus terjaga dan lestari sampai sekarang. Adanya gendang beleq bisa memicu solidaritas sosial.

5. Upacara Rebo Bontong

Upacara rebo bontong adalah ritual masyarakat Pringgabaya yang pelaksanaannya hanya sekali dalam setahun. Filosofi upacara ini adalah untuk tolak bala bagi masyarakat Pringgabaya.

Masyarakat Pringgabaya berkeyakinan bahwa sejak malam Rabu sampai hari Rabu di minggu terakhir bulan safar, Tuhan akan mengirimkan berbagai musibah dan bala.

Demikianlah tradisi Suku Sasak dan filosofinya yang menarik untuk diketehuai (eK)