5 Upacara Adat Aceh dan Makna di Dalamnya

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Upacara adat Aceh terdiri dari berbagai jenis dengan makna mendalam di baliknya. Dikutip dari buku Berbagai Macam Upacara Adat di Indonesia Penuh Makna Kehidupan oleh Husni Abdullah Mubarok, upacara adat menjadi salah satu warisan budaya yang masih lestari sampai sekarang.
Setiap daerah mempunyai upacara adat yang berbeda satu sama lain. Sebagaimana Aceh mempunyai upacara adat dengan makna tersirat di dalamnya. Apa saja?
Upacara Adat Aceh
Berikut ini berbagai upacara adat yang dimiliki Aceh:
1. Kenduri Pang Ulee
Upacara Kenduri Pang Ulee sama dengan pelaksanaan Maulid Nabi. Tujuannya, yakni memberi penghormatan pada kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi satu ini dilakukan selama tiga bulan pada penanggalan Hijriah, yakni Rabiul Awal, Rabiul Akhir, dan Jumadil Ula.
2. Peusijuek
Upacara adat Aceh berikutnya adalah Peusijuek yang menjadi gambaran dari rasa syukur pada Tuhan atas harapan-harapan yang tercapai. Upacara ini umumnya diselenggarakan pada pernikahan, naik haji, pergi menuntut ilmu, mempunyai rumah baru, dan lainnya.
Pelaksanaan upacara Peusijuek dipimpin tokoh agama atau adat setempat. Sang tokoh akan memimpin pembacaan doa kesejahteraan dan keselamatan pada Tuhan.
3. Khanduri Blang
Para petani Aceh melakukan upacara Khanduri Blang sampai sekarang. Upacara satu ini mempunyai tujuan untuk memohon hasil panen yang baik kepada Tuhan. Upacara ini dimulai dengan berkumpul di sawah sambil membawa peralatan masak dan seekor ayam.
Setelah ayam disembelih, ayam akan dimasak dan dimakan bersama-sama. Acara ditutup dengan memanjatkan doa bersama.
4. Kenduri Laot
Upacara adat Aceh selanjutnya adalah upacara Kenduri Laot. Upacara ini dilakukan nelayan setahun sekali dengan tujuan memohon kepada Allah untuk memberikan dan memberkahi kemudahan rezeki berupa tangkapan ikan.
5. Uroe Tulak Bala
Upacara Uroe Tulak Bala atau Hari Tolak Musibah dilaksanakan pada hari Rabu terakhir bulan Safar. Pasalnya, bulan Safar dipercaya masyarakat Aceh sebagai bulan turunnya musibah. Oleh karena itu, upacara Uroe Tulak Bala dilakukan dengan tujuan mencegah musibah.
Itu dia sekilas pembahasan mengenai upacara adat Aceh. Semoga bisa menambah pengetahuan bersama. (LAU)
