Akhir Perlawanan Sultan Baabullah dalam Mengusir Portugis

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah mencatat begitu banyak kisah pahlawan yang berjuang dengan gigih demi kemerdekaan dan martabat bangsanya.
Salah satu kisah epik yang tak terlupakan adalah akhir perlawanan Sultan Baabullah dalam mengusir Portugis dari wilayah Ternate.
Profil Sultan Baabullah
Mengutip buku Sejarah SMP/MTs Kls VII (KTSP), Sultan Baabullah, juga dikenal sebagai Baab atau Babu dalam catatan Eropa, ialah sultan ke-7 dan penguasa ke-24 Kesultanan Ternate di Maluku Utara yang memerintah antara tahun 1570 dan 1583.
Ia dihormati sebagai sultan paling agung dalam sejarah Ternate dan Maluku karena berhasil mengusir penjajah Portugis dari Ternate dan mengangkat kesultanan itu ke puncak kejayaannya pada akhir abad ke-16.
Gelar lain yang melekat pada Sultan Babullah adalah Penguasa 72 Pulau. Namun, panggilan takdir mengharuskannya menghadapi tantangan berat dalam melanjutkan perjuangan melawan penjajah.
Akhir Perlawanan Sultan Baabullah dalam Melawan Portugis
Perlawanan Sultan Baabullah bukan hanya kemenangan militer semata, tetapi juga simbol keberanian dan semangat juang yang harus diabadikan.
Berikut ini adalah beberapa aspek penting dari sejarah perlawanan Sultan Baabullah:
1. Pemicu Perlawanan
Pemicu perlawanan Sultan Baabullah tak lain adalah perlakuan Portugis yang semakin arogan, ditambah dengan kematian ayahnya, Sultan Khairun, yang tewas di tangan pasukan Portugis.
Kejadian tragis ini memicu kemarahan Sultan Baabullah dan memantik semangat perlawanan yang semakin berkobar.
2. Awal Perlawanan Ternate
Ketegangan antara Kesultanan Ternate dan Portugis mulai muncul sejak tahun 1560-an.
Sultan Khairun, ayah Sultan Baabullah, memerintahkan pasukannya untuk membatasi pergerakan Portugis di wilayah Ternate.
Konflik semakin meruncing, dan perlahan-lahan Ternate mulai mempersiapkan diri untuk mengusir penjajah.
3. Serangan Sultan Baabullah
Pasca wafatnya Sultan Khairun, perlawanan Ternate diambil alih oleh Sultan Baabullah. Pada tahun 1575, Sultan Baabullah meningkatkan intensitas perlawanannya terhadap Portugis.
Serangan yang dilancarkan berhasil merebut beberapa benteng, seperti Tolucco, Santa Lucia, dan Santo Pedro, meninggalkan Sao Joao Baptista sebagai pertahanan terakhir.
4. Jatuhnya Benteng Portugis
Benteng-benteng yang menjadi basis militer Portugis di Ternate jatuh satu per satu dalam waktu singkat.
Hanya Sao Joao Baptista yang tersisa sebagai benteng terakhir, yang juga merupakan kediaman Mesquita, pembunuh Sultan Khairun.
Keberanian Sultan Baabullah dan pasukannya semakin teruji saat menghadapi pertahanan sengit di Sao Joao Baptista.
5. Pengepungan Sao Joao Baptista
Benteng Sao Joao Baptista sengaja tidak langsung dijatuhkan oleh Sultan Baabullah. Sebaliknya, benteng tersebut dikepung dalam waktu yang cukup lama.
Pengepungan yang berkepanjangan membuat pasukan Portugis kesulitan mendapatkan bahan makanan karena terputus dari dunia luar.
6. Akhir Portugis di Ternate
Dengan keadaan yang sulit dan kelaparan yang menghantui, pada Desember 1975 pasukan Portugis akhirnya menyerah.
Pihak-pihak yang terlibat dalam pembunuhan Sultan Khairun diadili sesuai dengan hukum yang berlaku.
Inilah akhir dari hegemoni Portugis di Ternate, dan kemenangan gemilang Sultan Baabullah dalam mengusir penjajah.
Akhir perlawanan Sultan Baabullah adalah awal dari kehidupan baru bagi Ternate, yang kini dapat menikmati kemerdekaan dan kebebasan dari penjajahan. (AZZ)
