Apa Itu Diskursus? Berikut Penjelasannya

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa itu diskursus? Diskursus adalah pertukaran ide yang berakar dari bahasa dan konteksnya yang nyata. Diskursus merupakan sebuah homonim yang disebabkan berbagai artinya mempunyai ejaan serta pelafalan yang sama tetapi makna yang terkandung di dalamnya memiliki perbedaan.
Dikutip dari buku Filsafat Ilmu Diskursus Seputar Ilmu yang Penting bagi Guru Agama Islam karya Syamsul Kurniawan dan Moh. Haitami Salim, diskursus sendiri memiliki tujuh arti yang meliputi terdiri atas pertukaran ide, rasionalitas, gagasan dengan cara verbal, bahasan, wacana, pengungkapan pemikiran secara formal dan teratur hingga cara mengorganisasi pengetahuan, pemikiran atau pengalaman yang memiliki akar dari bahasa dan konteksnya yang nyata.
Diskursus memiliki arti dalam kelas kata benda atau nomina yang menjadikan diskursus dapat menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda serta segala hal yang dapat dikategorikan sebagai benda.
Apa Itu Diskursus? Berikut Penjelasannya
Pada mulanya diskursus hanya digunakan sebagai salah satu bagian dari linguistik atau kebahasaan. Diskursus sendiri membahas tentang suatu kumpulan kata-kata yang terdiri atas lebih dari satu kalimat atau tentang struktur bahasa yang baik juga terbukti kebenarannya yang dapat digunakan orang-orang dalam kehidupan sehari-hari.
Seiring dengan perkembangan zaman dan kebahasaan dalam kehidupan masyarakat, konsep awal dalam diskursus sendiri mulai membuat linguistik atau kebahasaan lebih berkembang dan berubah menjadi suatu konsep yang fleksibel, lebih dinamis hingga berpusat pada aktivitas atau tindakan.
Perkembangan diskursus juga terpicu karena terdapat koneksi antara ahli bahasa dengan ahli berbagai disiplin ilmu lainnya. Disiplin ilmu yang terkait dengan diskursus yaitu filsafat, sastra, semiotika, sosiologi hingga antropologi.
Berbagai disiplin ilmu tersebut memerlukan diskursus dalam kebahasaan untuk melakukan tafsir terhadap teori-teori yang terdapat dalam disiplin ilmu tersebut.
Para tokoh yang menjadi awal munculnya diskursus yaitu Saussure, Jakobson, Bakhtin, Boas dan Sapir. Perkembangan diskursus oleh para tokoh tersebut menjadikan terdapat penemuan terhadap konsep kebahasaan yang menjadikan bahasa sebagai fasilitas untuk menganalisa pendekatan dalam berbagai disiplin ilmu.
Penerapan diskursus dalam kehidupan nyata dapat terlihat dari proses pelaksanaan pemilihan umum atau pemilu. Ketika musim pemilu banyak terdapat diskursus yang akan berpengaruh pada para pemilih dalam menentukan pemimpin pilihannya.
Para calon pemimpin menyampaikan wacana yang berbentuk janji surga atau bisa juga ujaran kencian yang bersifat menjatuhkan lawan politik.
Demikian penjelasan mengenai jawaban apa itu diskursus. (ARH)
