news-card-video
29 Ramadhan 1446 HSabtu, 29 Maret 2025
Jakarta
chevron-down
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Konten dari Pengguna

Asal Mula Julukan Sultan Hasanuddin Beserta Biografinya

Sejarah dan Sosial
Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
14 Juli 2023 21:48 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi: Julukan Sultan Hasanuddin. Sumber: Irgi Nur Fadil/Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Julukan Sultan Hasanuddin. Sumber: Irgi Nur Fadil/Pexels.com
ADVERTISEMENT
Sultan Hasanuddin merupakan Raja Gowa ke-16 dan menjadi salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang gigih melawan penjajah Belanda. Julukan Sultan Hasanuddin yang terkenal adalah 'Ayam Jantan dari Timur'.
ADVERTISEMENT
Julukan tersebut disematkan kepada Sultan Hasanuddin karena perjuangannya yang tanpa lelah dan tidak pernah terpengaruh sedikit pun dengan ajakan Belanda.
Lantas, bagaimana asal mula julukan tersebut? Sebelum membahasnya, simak terlebih dahulu biografi singkat Sultan Hasanuddin di bawah ini!

Biografi Singkat Sultan Hasanuddin

Ilustrasi: Julukan Sultan Hasanuddin. Sumber: el jusuf/Pexels.com
Sultan Hasanuddin lahir pada 12 Januari 1631 di Gowa. Ia merupakan putra mahkota dari Kesultanan Gowa. Nama lahirnya adalah Muhammad Bakir I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape.
Sultan Hasanuddin adalah putra dari Raja Gowa ke-15, yaitu Sultan Malik as-Said atau Malikusaid dengan I Sabbe To’mo Lakuntu. Adapun kakek dari Sultan Hasanuddin, yaitu Sultan Alauddin, merupakan Raja Gowa pertama yang memeluk agama Islam.
Sejak kecil, Sultan Hasanuddin telah mempunyai jiwa kepemimpinan yang menonjol. Ia terkenal sebagai anak yang cerdas serta pandai berbisnis. Maka tidak heran jika relasinya sangat luas, bahkan hingga wilayah Makassar dan orang asing sekalipun.
ADVERTISEMENT
Ketika kecil, Sultan Hasanuddin menempuh pendidikan di Masjid Botoala dan sering diajak ayahnya mengikuti banyak pertemuan penting dalam kerajaan. Hal inilah yang membuat Sultan Hasanuddin banyak menyerap ilmu diplomasi serta strategi perang.
Kemudian, saat usianya 21 tahun, Sultan Hasanuddin menduduki takhta urusan pertahanan Gowa. Bukan hanya dibimbing sang ayah, ia juga memperoleh pendidikan pemerintahan dari Karaeng Pattingaloang, yaitu seorang Mangkubumi Kesultanan Gowa.
Setelah Hasanuddin naik takhta, ia pun semakin gigih melawan penjajah Belanda. Bahkan, meski sudah turun takhta dan sampai akhir hayatnya, ia tetap berpegang teguh tidak akan terpengaruh oleh Belanda.
Sultan Hasanuddin meninggal dunia pada 12 Juni 1670 dan makamnya terletak di Katangka, Kabupaten Gowa.

Asal-usul Julukan Sultan Hasanuddin

Mila Saraswati dan Ida Widaningsih dalam buku berjudul Be Smart Ilmu Pengetahuan Sosial menjelaskan bahwa Sultan Hasanuddin mempunyai keberanian dalam melawan penjajah Belanda. Atas hal inilah, Belanda memberinya julukan 'De Haan Van de Oosten' atau 'Ayam Jantan dari Timur'.
ADVERTISEMENT
Sultan Hasanuddin pun berhasil dikalahkan Belanda sebab kala itu pasukan Belanda yang dipimpin oleh Cornelis Speelman mendapat bantuan dari Aru Palaka, Raja Kerajaan Bone.
Setelah itu, diadakan Perjanjian Bongaya pada 1667. Jika dilihat isinya, perjanjian tersebut sangat merugikan Makassar.
Meski merasa dirugikan, tidak pernah sekalipun Sultan Hasanuddin terhasut dan terpengaruh kepada ajakan Belanda. Ia tetap berpegang teguh memperjuangkan Indonesia untuk bebas dari penjajah.
Demikianlah penjelasan tentang julukan Sultan Hasanuddin dan biografi singkatnya. Semoga bermanfaat! (Ek)