Asal-Usul Tradisi Ogoh-Ogoh oleh Umat Hindu di Wonosalam, Jombang

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Asal-usul tradisi ogoh-ogoh oleh umat Hindu di Wonosalam, Jombang terjadi secara beriringan dengan perkembangan agama Hindu di daerah tersebut. Pawai ogoh-ogoh di Wonosalam biasanya terjadi menjelang Hari Raya Nyepi.
Selain melakukan pawai ogoh-ogoh, masyarakat Hindu di Indonesia juga membakar patung raksasa tersebut. Pembakaran ogoh-ogoh memiliki tujuan tersendiri, yakni menghilangkan unsur Sang Bhuta Kala.
Asal-Usul Tradisi Ogoh-Ogoh oleh Umat Hindu di Wonosalam
Setiap daerah di Indonesia umumnya memiliki tradisi, baik itu yang berkaitan dengan adat istiadat, kepercayaan, maupun fenomena alam. Salah satu tradisi yang terdapat di Negeri Zamrud Khatulistiwa ini adalah tradisi ogoh-ogoh di kalangan umat Hindu.
Banyak orang mengenal bahwa tradisi ogoh-ogoh merupakan ritual umat Hindu di Bali. Padahal selain di Bali, masyarakat Hindu di Wonosalam Jombang pun melakukan tradisi pawai ogoh-ogoh.
Asal-usul tradisi ogoh-ogoh oleh umat Hindu di Wonosalam mempunyai kaitan erat dengan perkembangan agama Hindu di daerah tersebut. Jumlah pemeluk Hindu dan tempat peribadatan yang bertambah membuat tradisi ogoh-ogoh kian berkembang.
Masyarakat Hindu di Wonosalam, Jombang akan melakukan pawai serta pembakaran ogoh-ogoh guna menyambut Hari Raya Nyepi. Hari Raya Nyepi adalah hari raya bagi pemeluk agama Hindu.
Penyebab Ogoh-Ogoh Dibakar
Ogoh-ogoh dalam bahasa Indonesia memiliki makna sebagai patung yang terbuat dari bambu, kertas, dan sebagainya. Ogoh-ogoh umumnya mempunyai bentuk besar alias raksasa.
Mengutip dari buku Pendidikan dan Nilai Agama Hindu karya Budiasih, dkk. (2023:191), makna dari ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menjadi simbol manifestasi dari kepribadian Sang Bhuta Kala.
Menurut ajaran Hindu Dharma, Sang Bhuta Kala adalah representasi dari wujud kekuatan alam semesta (Bhu) dengan kekuatan waktu (Kala) yang tidak ada akhirnya. Sang Bhuta Kala menggambarkan sosok yang sangat besar dan menakutkan.
Lebih lanjut, Budiasih dkk. menjelaskan bahwa ogoh-ogoh dibakar dengan tujuan unsur dari Sang Bhuta Kala hilang. Oleh karena itu, pawai ogoh-ogoh selalu mencakup kegiatan pembakaran.
Demikian menjadi jelas bahwa asal-usul tradisi ogoh-ogoh oleh umat Hindu di Wonosalam terjadi secara beriringan dengan perkembangan agama Hindu di daerah tersebut. Pawai ogoh-ogoh terjadi setiap kali menyambut Hari Raya Nyepi. (AA)
