Konten dari Pengguna

Cara Jassin Menyusun Dokumentasi di Pusat Dokumentasi Sastra

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Bagaimana Jassin Menyusun Dokumentasi di Pusat Dokumentasi Sastra, Foto: Unsplash/Iñaki del Olmo
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bagaimana Jassin Menyusun Dokumentasi di Pusat Dokumentasi Sastra, Foto: Unsplash/Iñaki del Olmo

H.B. Jassin memainkan peran penting dalam pelestarian khazanah kesusastraan tanah air. Bagaimana Jassin menyusun dokumentasi di Pusat Dokumentasi Sastra berhasil menciptakan sebuah ruang arsip yang menyimpan karya-karya sastra Indonesia.

Mengutip Jurnal Analisis Usability Situs Web Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Robret M., dkk., (2021: 90), Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin awalnya Adalah dokumentasi sastra milik pribadi, yang bermula dari hobi Hans Bague Jassin.

Bagaimana Jassin Menyusun Dokumentasi di Pusat Dokumentasi Sastra?

Ilustrasi Bagaimana Jassin Menyusun Dokumentasi di Pusat Dokumentasi Sastra, Foto: Unsplash/Peter Bryan

Cara Jassin menyusun dokumentasi di Pusat Dokumentasi Sastra adalah dengan menyusun dokumen dalam map-map khusus yang diorganisasi berdasarkan urutan alfabet. Dengan metode ini, sastra tersusun dengan sistematis.

Pada awal pengumpulannya, Jassin secara tekun mengumpulkan buku harian, tulisan-tulisannya, serta surat dan foto pribadi. Ketika masa penjajahan Belanda dan Jepang, Jassin mengembangkan minatnya dengan mengoleksi lebih banyak.

Ia mengumpulkan media cetak seperti majalah dan surat kabar yang terbit pada era tersebut, kemudian menggunting serta menyimpan artikel penting sebagai bahan dokumentasi. Jassin kemudian bekerja di Balai Pustaka sekitar tahun 1940-an.

Dari sana, ia mulai mengoleksi karya-karya sastra dalam bentuk naskah tulisan tangan hingga buku-buku cetak karya para pengarang. Koleksi pribadinya semakin dikenal luas, terutama saat Jassin menjadi dosen di Universitas Indonesia.

Atas dorongan Ajip Rosidi dan sejumlah tokoh sastra lainnya, serta dukungan dari Gubernur DKI Jakarta saat itu, Letjen Ali Sadikin, terbentuklah Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin pada 28 Juni 1976.

Kemudian, pada 30 Mei 1977, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin diresmikan di Taman Ismail Marzuki. Sejak saat itu, seluruh arsip sastra milik Jassin yang tersebar mulai dikumpulkan dan dikelola secara terpusat oleh yayasan PDS H.B. Jassin.

Dalam pengantar buku Surat-surat 1943–1983 (1984: xvii), Pamusuk Eneste mengutip pernyataan H.B. Jassin yang menyatakan bahwa dokumentasi berfungsi sebagai sarana untuk memperpanjang, memperdalam, dan memperluas daya ingat manusia.

Demikianlah cara Jassin menyusun dokumentasi di Pusat Dokumentasi Sastra. Kini, PDS HB Jassin bukan sekadar ruang penyimpanan, melainkan monumen dedikasi seorang tokoh terhadap sastra dan sejarah Indonesia.

Baca Juga: Kronologi Peristiwa Sumpah Pemuda dan Maknanya bagi Bangsa Indonesia