Konten dari Pengguna

Cara Melestarikan Tradisi Bakdo Kupat saat Idulfitri

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi cara melestarikan tradisi bakdo kupat. Sumber: Mufid Majnun/unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi cara melestarikan tradisi bakdo kupat. Sumber: Mufid Majnun/unsplash.com

Bakdo kupat atau lebaran kupat adalah tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat muslim pada hari ke-7 setelah hari raya Idulfitri. Cara melestarikan tradisi bakdo kupat bisa dilaksanakan dengan rutin menyelenggarakannya saat hari raya Idulfitri.

Maghfiroh dan Nurhayati dalam Makna Kultural pada Kepercayaan Masyarakat Jawa Terhadap Ketupat di Momen Lebaran: Kajian Antropologi Linguistik menyebutkan bahwa lebaran kupat adalah tradisi yang diselenggarakan oleh umat muslim dengan menikmati hidangan ketupat bersama sayuran.

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai cara melestarikan tradisi bakdo kupat, simak penjelasannya dalam artikel berikut.

Sejarah Tradisi Bakdo Kupat

Ilustrasi cara melestarikan tradisi bakdo kupat. Sumber: ignartonosbg/pixabay.com

Tradisi bakdo kupat atau biasa disebut dengan lebaran ketupat adalah tradisi peninggalan Wali Songo, yakni Sunan Kalijaga. Dahulu, Sunan Kalijaga memperkenalkan ketupat sebagai menu khas lebaran, sehingga menjadi simbol dalam merayakan hari raya Idulfitri di masa kepemimpinan Raden Patah selaku raja dari Kerajaan Demak.

Bukan hanya itu, tradisi bakdo kupat juga menjadi simbol kebersamaan masyarakat melalui aktivitas memasak ketupat serta berbagi kepada sanak saudara. Pada zaman dahulu, tradisi lebaran ketupat serta slametan dimanfaatkan oleh para Wali Songo untuk memperkenalkan ajaran Islam.

Filosofi Tradisi Lebaran Ketupat

Pada dasarnya, tradisi lebaran ketupat lekat dengan sajian ketupat, yakni makanan dengan bahan dasar beras dan dibungkus dengan janur kuning. Menurut masyarakat Jawa, ketupat mempunyai filosofi berupa "ngaku lepat" atau mengakui kesalahan.

Di sisi lain, lauk pendamping ketupat serta bagian-bagiannya juga mempunyai filosofi tersendiri. Misalnya beras putih sebagai isian ketupat mempunyai filosofi sebagai bentuk harapan agar kehidupannya memperoleh kemakmuran serta memperoleh permohonan maaf atas segala kesalahan yang telah dilakukan.

Janur kuning dimaknai sebagai lambang seluruh manusia berada dalam kondisi bersih serta suci usai menunaikan ibadah puasa. Masyarakat Jawa juga mempercayai bahwa janur mempunyai kekuatan magis sebagai penolak bala.

Cara Melestarikan Tradisi Bakdo Kupat

Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan oleh masyarakat guna melestarikan tradisi lebaran ketupat ini. Adapun sejumlah cara melestarikan tradisi bakdo kupat adalah:

  • Rutin melaksanakan tradisi lebaran ketupat pada tanggal 8 Syawal setiap tahunnya atau pasca hari raya Idulfitri.

  • Membuat ketupat bersama keluarga maupun tetangga untuk mewujudkan kebersamaan.

  • Berbagi ketupat dan sayur kepada tetangga maupun keluarga.

Demikian informasi mengenai cara melestarikan tradisi bakdo kupat, beserta sejarah dan filosofinya. [ENF]