Konten dari Pengguna
Ciri Khas Kerajaan Pajang yang Menandai Peralihan dari Era Demak ke Mataram
26 Juli 2025 19:52 WIB
·
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Ciri Khas Kerajaan Pajang yang Menandai Peralihan dari Era Demak ke Mataram
Inilah ciri khas Kerajaan Pajang yang menandai peralihan dari era Demak ke Mataram. Sejarah dan Sosial
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Ciri khas Kerajaan Pajang mencerminkan fase transisi dalam sejarah kekuasaan Islam di Jawa, dari dominasi kerajaan maritim menuju kerajaan agraris.
ADVERTISEMENT
Setelah Kerajaan Demak mengalami kemunduran akibat perebutan takhta dan konflik antar bangsawan, muncul kekuatan baru di pedalaman, yakni Pajang.
Dipimpin oleh Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, Pajang bukan hanya penerus secara politik, tetapi juga pelopor dalam membentuk corak pemerintahan yang lebih terstruktur dan bercorak Jawa-Islam.
Ciri Khas Kerajaan Pajang
Ciri khas Kerajaan Pajang adalah pergeseran pusat kekuasaan dari wilayah pesisir ke daerah pedalaman Jawa.
Dikutip dari buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid II, Marwati Djoened Poesponegoro, 2008:141, berdirinya Pajang menjadi peristiwa penting yang mengantarkan pada kelahiran Mataram, kerajaan Islam terbesar di Jawa pada masa berikutnya.
Berbeda dari Demak yang berbasis maritim dan kental dengan pengaruh asing, Pajang membangun struktur pemerintahan berbasis budaya Jawa lokal dan memperkuat peran ulama dalam birokrasi.
ADVERTISEMENT
Letak geografis yang strategis di wilayah Surakarta saat ini membuat Pajang mampu menjangkau berbagai wilayah di pedalaman, sekaligus menjembatani nilai-nilai keislaman dengan budaya lokal.
Pajang telah menerapkan sistem kekuasaan yang lebih mapan, membuka jalan bagi lahirnya sistem politik dinasti di Mataram.
Peran Pajang dalam Lahirnya Mataram
Ciri khas Kerajaan Pajang juga tampak dari kemunculan tokoh-tokoh penting seperti Sutawijaya, yang kelak mendirikan Mataram Islam.
Sultan Hadiwijaya memanfaatkan kekuasaan Pajang untuk membina aliansi dengan kelompok bangsawan dan tokoh lokal, sehingga menciptakan stabilitas politik pasca kemunduran Demak.
Strategi ini memungkinkan terjadinya regenerasi kekuasaan yang lebih terorganisasi, seperti tercermin dalam hubungan antara Pajang dan Kadipaten Mataram yang kemudian menjadi pusat kekuasaan baru.
Dari sinilah terbentuk jaringan kekuasaan yang mengakar di wilayah pedalaman, mempertegas peran Pajang sebagai penghubung transisi sejarah kerajaan Islam di Jawa.
ADVERTISEMENT
Ciri khas Kerajaan Pajang ini menjadi penanda penting perubahan model kekuasaan Islam dari era pesisir menuju pedalaman.
Kerajaan ini mewariskan struktur pemerintahan, sistem aliansi, dan pola budaya yang diadopsi oleh Mataram.
Dengan letaknya yang strategis, kepemimpinan Sultan Hadiwijaya, dan kebijakan yang membumi, Pajang menjadi pondasi bagi kemunculan kekuasaan yang lebih besar di masa depan.
Sebagai kerajaan transisi, peran dan keunikan Pajang tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik dan budaya Jawa pada masa pertengahan abad ke-16. (Phonna)

