Dampak Negatif Revolusi Hijau beserta Latar Belakangnya

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Revolusi Hijau adalah periode transfer teknologi untuk meningkatkan hasil panen. Hal ini ternyata memberikan dampak negatif di dunia pertanian. Adapun salah satu dampak negatif Revolusi Hijau adalah kepunahan keanekaragaman hayati.
Hal ini juga disampaikan oleh Gultom dan Harianto dalam Revolusi Hijau Merubah Sosial-Ekonomi Masyarakat Petani, bahwa Revolusi Hijau mampu mengubah sosial ekonomi pada masyarakat petani.
Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai sejarah dan dampak Revolusi Hijau, simak selengkapnya di artikel ini.
Latar Belakang Revolusi Hijau
Revolusi Hijau adalah peristiwa yang bermula dari reaksi terhadap krisis kelaparan di sejumlah negara berkembang antara tahun 1960-1970. Peristiwa peningkatan produksi pangan ini pertama kali terjadi di Meksiko sekitar tahun 1940-an.
Awal mulanya adalah adanya pengembangan gandum di wilayah Meksiko oleh Ford serta Rockefeller Foundation. Program tersebut bukan hanya bertujuan untuk meningkatkan produksi gandum dan beras, tetapi juga bahan makanan lainnya, seperti ubi, bayam, buncis, hingga jagung.
Proses Revolusi Hijau berlangsung melalui sejumlah cara, seperti penelitian maupun percobaan bibit unggul. Di Indonesia, peristiwa ini mulai terjadi pada masa Orde Baru.
Di Indonesia, pelaksanaan Revolusi Hijau dilakukan dengan penerapan beberapa hal, seperti penggunaan pupuk secara optimal, sistem irigasi untuk menyediakan air, penggunaan pestisida, hingga menggunakan bahan tanam berkualitas.
Dampak Positif Revolusi Hijau
Adanya Revolusi Hijau ini memberikan dampak positif bagi kehidupan pertanian, antara lain:
Meningkatkan pendapatan petani meskipun biaya produksinya turut meningkat.
Munculnya tanaman jenis unggul dengan umur pendek dan meningkatkan angka penanaman per tahun.
Merangsang dinamika perekonomian masyarakat.
Meningkatkan kesadaran petani serta masyarakat mengenai pentingnya teknologi.
Meningkatkan pemenuhan bahan pangan pokok, khususnya serealia demi mencukupi kebutuhan karbohidrat.
Menjadikan Indonesia sebagai negara swasembada pangan yang besar selama dekade 1980-an.
Mengatasi krisis kelaparan selama beberapa waktu.
Dampak Negatif Revolusi Hijau
Selain memiliki dampak positif, Revolusi Hijau juga berdampak negatif terhadap perkembangan pertanian. Adapun beberapa dampak negatif Revolusi Hijau adalah.
Adanya degradasi ekosistem, terlebih lagi akibat penggunaan pestisida serta pupuk kimia berlebihan.
Kepunahan keanekaragaman hayati, khususnya pada varietas lokal.
Ketergantungan terhadap pestisida serta pupuk kimia, sehingga dapat meningkatkan biaya produksi.
Risiko perubahan iklim. Sebab, penggunaan pupuk kimia dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca.
Perubahan terhadap sistem bagi hasil serta penurunan peluang kerja di pedesaan.
Meningkatnya produksi pangan yang tidak selalu berdampak terhadap peningkatan pendapatan petani keseluruhan.
Meningkatnya pengaruh ekonomi uang di dalam struktur sosial pedesaan.
Demikian sederet informasi mengenai dampak negatif Revolusi Hijau dan sejarahnya. [ENF]
