Konten dari Pengguna

Dampak Perang Puputan Bali terhadap Budaya Bali yang Signifikan

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dampak perang puputan bali terhadap budaya bali, sumber foto: Agung Pandit Wiguna by pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dampak perang puputan bali terhadap budaya bali, sumber foto: Agung Pandit Wiguna by pexels.com

Perang Puputan Bali atau biasa disebut Puputan Margarana merupakan peristiwa penuh sejarah yang terjadi di Pulau Bali. Dampak perang Puputan Bali terhadap budaya Bali tersebut seperti dihapuskannya upacara adat yang ada.

Sejarah perjuangan rakyat Bali tersebut bertujuan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa tersebut terjadi di Desa Marga, Margarana, Tabanan, Bali pada 20 November 1946.

Dikutip dari buku Perubahan Sosial di Pedesaan Bali karya Daddi H. Gunawan, di bawah ini ada beberapa dampak dari perang Puputan Bali terhadap budaya Bali.

Dampak Perang Puputan Bali terhadap Budaya Bali

Ilustrasi dampak perang puputan bali terhadap budaya bali, sumber foto: Alesia Kozik by pexels.com

Margarana adalah salah satu tempat di Bali, di mana menjadi lokasi terjadinya perang Puputan Bali melawan Belanda. Perang tersebut menjadi perang terdahsyat pada masa revolusi fisik, ini dipimpin oleh Letnan Kolonel Inf. I Gusti Ngurah Rai.

Secara umum perang tersebut merupakan bentuk perjuangan rakyat Bali yang tidak ingin Belanda kembali menjajah wilayahnya. Tentunya ada banyak dampak besar yang berpengaruh terhadap kondisi Bali, terutama kebudayaannya.

Jika dalam bahasa Bali, Puputan berarti perang hingga titik darah penghabisan. Margarana berarti lokasi perang di kecamatan bernama Margarana di Kabupaten Tabanan, Bali, berikut beberapa dampak perang terhadap budaya Bali:

1. Belanda Menguasai Seluruh Kawasan Pulau Bali

Perang dahsyat tersebut ternyata dimenangkan oleh Belanda hingga berhasil menguasai seluruh kawasan pulau Bali. Namun rakyat Bali tidak diam begitu saja, di berbagai tempat telah dilakukan upaya untuk mengusir Belanda.

2. Pengaruh Kerajaan di Bali Melemah

Zaman dahulu kerajaan di Bali memiliki peran dan kedudukan yang sangat tinggi. Hanya saja kedudukan tersebut tidak berlangsung lama sejak Belanda berhasil menguasai seluruh wilayah Pulau Bali berkat memenangkan Puputan Margarana.

Hingga akhirnya raja-raja Bali menjadi bawahan Belanda, tidak heran jika pengaruh kerajaan semakin melemah. Bahkan Belanda juga ikut menguasai perdagangan hingga menerapkan monopoli di pulau tersebut.

3. Beberapa Upacara Adat Bali Dihapuskan

Bali menjadi salah satu pulau yang punya beragam kebudayaan dan terus dilestarikan. Hanya saja kemenangan Belanda dalam perang Puputan Margarana membuat beberapa budaya di Bali harus dihapuskan.

Dampak perang Puputan Bali terhadap budaya Bali memang tidak banyak, hanya saja membawa perubahan besar di pulau tersebut.(DSI)