Definisi Tradisi Lisan Masyarakat Adat dan Contohnya di Indonesia

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tradisi lisan masyarakat adat merupakan salah satu bentuk tradisi yang ada dalam kehidupan manusia. Tradisi tersebut adalah kebudayaan kolektif yang memiliki bentuk lisan atau diwariskan secara lisan.
Dua contoh tradisi lisan di Indonesia adalah didong dari Aceh, dan dadendate dari Sulawesi Tengah. Layaknya sebuah tradisi, tradisi lisan dari masyarakat adat pun biasa dilestarikan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Definisi Tradisi Lisan Masyarakat Adat
Kumpulan manusia yang mendiami suatu tempat umumnya akan membentuk masyarakat. Seiring dengan keberadaan masyarakat, tradisi pun berkembang di dalamnya.
Salah satu contoh adalah tradisi lisan dari masyarakat adat. Mengutip dari buku Tradisi Lisan Vera: Jendela Bahasa, Sastra, dan Budaya Etnik Rongga, Sumitri (2016: 5), Pudentia menjelaskan bahwa tradisi lisan adalah segala wacana yang diucapkan meliputi hal yang lisan dan hal yang beraksara atau sebagai sistem wacana yang bukan aksara.
Tradisi lisan mempunyai banyak bentuk, antara lain:
Dongeng;
Mitos;
Legenda;
Pantun; atau
Syair.
Secara umum, masyarakat adat memiliki arti sebagai komunitas adat. Jadi, tradisi lisan masyarakat adat merupakan kebudayaan kolektif dari suatu masyarakat adat yang berupa lisan atau diwariskan secara lisan.
2 Contoh Tradisi Lisan Masyarakat Adat di Indonesia
Indonesia merupakan negeri yang kaya dengan budaya. Hal itu dapat terlihat dari banyaknya tradisi lisan dari masyarakat adat yang ada di Indonesia, seperti didong dan dadendate.
Berikut penjelasan ringkas mengenai didong dan dadendate yang dapat melengkapi pemahaman terkait tradisi lisan dari masyarakat adat di Indonesia.
1. Didong
Didong merupakan tradisi lisan Gayo, Aceh. Kesenian tersebut memadukan unsur tari, vokal, serta sastra yang biasa dipertunjukkan secara berkelompok.
Satu kelompok biasanya terdiri dari lima belas orang yang duduk bersila atau berdiri. Lantunan syair dalam didong menggunakan bahasa Gayo dengan iringan dari tabuhan gendang.
2. Dadendate
Dadendate merupakan tradisi lisan di Sulawesi Tengah. Mengutip dari buku Mengenal Tarian dan Seni Sulawesi, Fajar (2020: 18), sebagian orang menyebut dadendate sebagai embrio teater daerah Sulawesi Tengah.
Selain itu, ada pula yang memiliki pendapat bahwa dadendate adalah sebuah seni sastra tutur. Landasan pendapat tersebut adalah karena syairnya yang dilagukan secara spontan dan puitis, tanpa teks atau naskah.
Demikian menjadi jelas bahwa ada banyak tradisi lisan masyarakat adat di Indonesia. Tiga di antaranya adalah didong dan dadendate. (AA)
