Konten dari Pengguna

Dialog Bawang Merah Bawang Putih untuk Belajar

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bawang merah bawang putih. Sumber foto; Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bawang merah bawang putih. Sumber foto; Unsplash

Cerita tentang bawang merah dan bawang putih mungkin sudah tidak asing lagi di telinga para pelajar Indonesia. Kisah ini sendiri memang sering ditampilkan dalam pentas drama oleh anak sekolah.

Bagi kamu yang sedang mencari dialog tentang bawang merah dan bawang putih untuk belajar seni, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Dialog Bawang Merah dan Bawang Putih

Ilustrasi bawang merah bawang putih. Sumber foto: Unsplash

Bawang merah dan bawang putih merupakan kisah tentang dua kakak-beradik cantik yang memiliki sifat bertolak belakang dan tinggal bersama ibu tiri yang pilih kasih.

Bawang merah dikenal memiliki sifat yang malas, sombong, suka bermewah-mewah, tamak dan pendengki. Sementara bawang putih memiliki sifat yang tekun, rajin, rendah hati, jujur, dan baik.

Dilihat dari latarnya, tak heran jika dongeng bawang merah dan bawang putih cukup terkenal. Kisah ini juga sering ditampilkan dalam pentas seni.

Bagi kamu yang ingin mempelajari dialog bawang merah dan bawang putih, berikut ini dialog lengkap yang dilansir dari buku Pembelajaran Seni Budaya milik Arina Restian dkk.

Dialog Bawang Merah dan Bawang Putih

Dahulu kala, hidup sebuah keluarga, yakni Bawang Merah, Bawang Putih, dan kedua orang tua mereka. Hidup bawang putih penuh dengan siksaan, omelan, serta hinaan. Hingga suatu hari, bawang merah memanggil bawang putih dengan penuh amarah.

Bawang Merah: "Putih, kesini kamu! Cepat bersihkan ruang tamu ini! Bersihkan dengan sempurna, jangan sampai ada debu yang menempel. Kalau sampai ruangan ini tidak bersih, kamu tahu sendiri akibatnya!"

Bawang Putih: "Baik, bawang merah."

Ibu: "Kenapa suasana terasa sepi. Di mana bawang putih? Putih.. Putih! Kemana ia sampai tidak menyahut?"

Bapak: "Ada apa, bu?"

Ibu: "Lho, ada bapak. Kapan bapak datang? Ibu tidak mendengar suara ketukan pintu"

Bapak: "Bapak sengaja tidak mengetuk pintu, karena mendengar ibu berteriak-teriak. Kemana bawang putih? Kenapa ibu memanggilnya?"

Ibu: "Tidak apa-apa, pak. Ibu hanya khawatir bawang putih kenapa-napa, sepertinya ia sedang istirahat di kamar."

Bapak: "Terima kasih ya, bu. Bapak bangga punya istri seperti ibu yang baik sekali dengan anak kita. Kalau begitu bapak pergi dulu, ya."

Ibu: "Hati-hati, pak!"

("Dasar suami bodoh, aku hanya mencintai hartamu! Putih..! Sini kamu!")

Bawang putih: "Iya, bu."

Ibu: "Cepat bersihkan rumah ini."

Hari demi hari, bawang putih melewati sepenuh hidupnya dengan siksaan. Sampai akhirnya seorang pangeran datang dan ingin melamar bawang putih.

Bawang Merah: "Kenapa Pangeran menyukai Bawang Putih, dia adalah perempuan yang licik dan suka mempermainkan lelaki?" "Bawang Putih, sini kamu!"

Bawang Putih: "Iya, mbak!"

Bawang Merah: "Pangeran ingin menjadikanmu permaisuri, ikutlah dengannya ke kerajaan"

Bawang putih menunduk malu dan menerima lamaran pangeran. Akhirnya, bawang putih hidup bahagia selamanya. (RAF)