Fakta Sejarah Perang Saparua di Ambon pada Masa Kolonial Belanda

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kekuasaan Kolonial Belanda di Indonesia menghadirkan banyak perlawanan dari rakyat. Salah satunya adalah Perang Saparua. Sejarah Perang Saparua di Ambon menjadi bukti bahwa Indonesia adalah bangsa yang berani.
Perang ini bergejolak setelah Belanda menerima penyerahan kekuasaan dari Inggris pada tahun 1816. Pada masa inilah, kesejahteraan rakyat Maluku terus mengalami penurunan. Sebenarnya, apa yang terjadi? Simak ulasan berikut!
Sejarah Perang Saparua di Ambon
A. Ferry T. Indratno, dkk. dalam buku berjudul Sejarah SMA/MA IPA menjelaskan bahwa perlawanan Saparua terjadi pada tahun 1817. Perang tersebut muncul karena peraturan yang ditetapkan oleh Belanda merugikan rakyat Maluku. Inilah peraturannya, antara lain:
Belanda melakukan monopoli komoditas dagang dan perdagangan di kawasan Maluku.
Belanda menerapkan kewajiban kerja blandong atau menebang hutan, penyerahan ikan asin, kopi, dendeng, hingga penyerahan atap.
Belanda juga menduduki Duurstede di Saparua.
Pemerintah Kolonial berencana menghapus banyak sekolah desa dan akan memberhentikan guru sebagai cara menghemat anggaran.
Kebijakan monopoli perdagangan semakin diperketat, kerja paksa, dan Pelayaran Hongi. Alhasil, banyak rakyat yang hidupnya semakin menderita.
Adanya masalah dalam peredaran uang kertas yang mempersulit kehidupan rakyat.
Sikap arogan juga sewenang-wenang yang diberikan kepada rakyat oleh Residen Saparua, Van den Berg.
Pemaksaan terhadap pemuda Maluku untuk menjadi serdadu Belanda yang berlokasi di luar Maluku.
Berbagai peraturan tersebut menyebabkan rakyat Maluku tersiksa. Akhirnya, memuncak menjadi perlawanan rakyat Maluku dan hadirlah Perang Saparua.
Perang Saparua adalah bentuk perlawanan rakyat Maluku kepada Belanda, dimulai dengan menyerbu benteng Belanda Duurstede di Saparua yang terjadi pada 15 Mei 1817.
Perlawanan tersebut dipimpin oleh Thomas Matulessy, yang dikenal dengan sebutan Kapitan Pattimura.
Dalam penyerbuan, akhirnya benteng Duurstede bisa direbut oleh rakyat. Bukan hanya itu, Residen Belanda, yakni Van den Berg, ikut tewas dalam pertempuran tersebut.
Kemudian, perlawanan meluas ke daerah Ambon, Seram, serta lokasi yang lain. Namun, pada tanggal 16 Desember 1817, Pattimura dan kawan-kawan tertangkap dan mendapatkan hukuman mati.
Pada pemberontakan tersebut, ikut juga tokoh-tokoh Saparua, seperti Authonie Rhebeek, Lucas Latumahina, Thomas Pattiwael, Said Perintah, Ulupaka, dan juga seorang pahlawan wanita yang gigih berani, yakni Christina Martha Tiahahu (yang meninggal dalam tawanan di Jawa).
Itulah penjelasan tentang sejarah Perang Saparua di Ambon dalam melawan Kolonial Belanda. Semoga membantu! (Ek)
