Filosofi Congklak, Permainan Tradisional yang Penuh Makna

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat kita kecil, kita pasti pernah bermain permainan tradisional bernama congklak yang punya filosofi tersendiri.
Congklak sendiri merupakan permainan tradisional yang mengasah otak dan biasanya menggunakam cangkang kerang.
Namun, tahukah kamu bahwa permainan satu ini mempunyai filosofi tersendiri?
Filosofi Permainan Congklak
Dikutip dari buku Congklak milik Annastasia F.Q, congklak adalah permainan tradisional yang dikenal dalam berbagai nama di Indonesia. Permainan ini sudah lama diwariskan secara turun-temurun.
Di Lampung, permainan satu ini disebut sebagai Dentuman Lamban. Namun, di Jawa, permainan satu ini lebih dikenal sebagai Congklak, Dhakon, Dakon, atau Dhakohan.
Namun di beberapa daerah Sumatra, permaina ini dikenal sebagai Congkak. Di Sulawesi, Congklak lebih dikenal sebagai Makaotan, Manggaleceng, Anggalacang, dan Nogarata.
Permainan ini biasa dimainkan oleh dua orang. Pada papan congklak, terdapat 16 lubang, 14 lubang kecil, dan dua lubang besar di sisi kanan kiri. Tiap pemain bisa memilih 7 lubang kecil sesuai dengan sisinya, misal sisi atas atau sisi bawah.
Cara bermainnya juga cukup unik, kita harus mengisi lubang kecil yang telah dipilih dengan tujuh buah biji untuk langkah pertama. Lubang besar di sisi kiri para pemain, yang dianggap sebagai base atau rumah dilarang untuk diisi.
Lalu, untuk menentukan siapa pemain yang jalan duluan, biasanya akan dilakukan dengan suten atau biasa dikenal sebagai suit.
Lalu, apa filosofi kehidupan dari congklak?
Tujuh lubang kecil dalam permainan ini mengajarkan kepada kita tentang setiap manusia memiliki waktu yang sama, yaitu tujuh hari. Lalu, tujuh biji dalam congklak dilambangkan sebagai perbuatan yang kita lakukan setiap hari, akan berpengaruh pada hari berikutnya.
Ketika biji diambil, artinya kehidupan harus memberi dan menerima semuanya dengan ikhlas. Hal ini dilakukan untuk kemantapan hidup. Biji yang sudah diambil, tidak bisa lagi ditunda dan dikembalikan. Jadi kita harus tulus dalam menjaalni hidup.
Congklak juga mengajarkan kepada kita bahwa setiap harta kekayaan yang kita punya, kita wajib untuk membaginya dan tidak boleh serakah agar tidak kehilangan semuanya dalam sekejap.
Itulah dia filosofi dari congklak. Semoga menambah ilmu pengetahuan kamu! (RAF)
