Isi Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular beserta Maknanya

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kitab Sutasoma dalam tradisi sastra jawa menjadi salah satu karya sastra klasik yang istimewa. Oleh karena itu, isi kitab sutasoma beserta maknanya perlu diketahui.
Dikutip dari buku Ilmu Pengetahuan Sosial karya Waluyo, kitab sutasoma ditulis oleh seorang yang terkenal bernama Mpu Tantular.
Pada artikel ini, akan dijelaskan isi kitab sutasoma karya Mpu Tantular beserta maknanya.
Isi Kitab Sutasoma
Sutasoma merupakan putra Prabu Mahaketu dari Kerajaan Astina yang lebih gemar memperdalam ajaran Buddha Mahayana daripada menggantikan ayahnya menjadi raja.
Pada suatu malam, Sutasoma pergi ke hutan untuk melakukan ritual semedi di sebuah candi dan mendapatkan anugerah. Kemudian Sutasoma pergi ke pegunungan Himalaya bersama beberapa pendeta.
Sesampainya di sebuah tempat pertapaan, sang pangeran mendengar riwayat cerita tentang seorang raja, reinkarnasi dari seorang raksasa yang bernama Prabu Purusada yang suka memakan daging manusia.
Para pendeta dan Batari Pretiwi membujuk Sutasoma supaya mau membunuh Prabu Purusada. tetapi Sutasoma menolak karena hendak melanjutkan perjalanan.
Dalam perjalanan, Sutasoma bertemu raksasa berkepala gajah pemakan manusia serta ular naga. Setelah mendengar khotbah Sutasoma tentang agama Buddha, kedua makhluk tadi bersedia menjadi muridnya.
Sutasoma juga bertemu dengan harimau betina yang hendak memakan anaknya sendiri. Sutasoma sempat mati karena bersedia dimangsa harimau tersebut. Lalu datanglah Batara Indra dan Sutasoma pun dihidupkan kembali.
Tersebutlah sepupu Sutasoma yang bernama Prabu Dasabahu, berperang dengan anak buah Prabu Kalmasapada. Anak buah Prabu Kalmasapada kalah lalu meminta perlindungan Sutasoma.
Prabu Dasabahu yang terus mengejar akhirnya tahu bahwa Sutasoma merupakan sepupunya, lalu diajaklah sutasoma ke negerinya lalu dijadikannya ipar.
Setelah kembali ke wilayah Astina, Sutasoma dinobatkan sebagai raja yang bergelar Prabu Sutasoma.
Cerita dilanjutkan kisah Prabu Purusada yang membayar kaul kepada Batara Kala supaya bisa sembuh dari penyakitnya. Purusada mengumpulkan 100 raja, tetapi Batara Kala tidak mau memakan mereka.
Prabu Sutasoma bersedia menjadi santapan Batara Kala sebagai ganti atas 100 raja yang disita Purusada.
Mendengar permintaan dari raja Astina, Purusada menjadi sadar akan perbuatannya lalu berjanji tidak akan memakan daging manusia lagi.
Makna 'Bhinneka Tunggal Ika' dalam Isi Kitab Sutasoma
Kakawin Sutasoma dikutip oleh pendiri bangsa Indonesia saat merumuskan Bhinneka Tunggal Ika. Kutipan frasa Bhinneka Tunggal Ika terdapat dalam Kakawin Sutasoma pada pupuhan 139 bait 5.
Dalam bait tersebut dikatakan meskipun Buddha dan Siwa berbeda tetap dapat dikenali. Sebab kebenaran Buddha dan Siwa yaitu tunggal. Berbeda tetapi tunggal, sebab tidak ada kebenaran yang sifatnya mendua.
Demikian penjelasan isi kitab sutasoma karya Mpu Tantular beserta maknanya. (ARH)
