Kehidupan Ekonomi Kerajaan Tidore sebagai Pusat Perdagangan Rempah-rempah

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kerajaan Tidore merupakan kerajaan yang terletak di Maluku Utara, Indonesia yang berdiri pada abad ke-14. Kehidupan ekonomi Kerajaan Tidore pada waktu itu sangat baik dan terkenal sebagai pusat perdagangan rempah-rempah.
Pada dasarnya, Kerajaan Tidore ini didirikan oleh seorang pangeran dari Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan bernama Baab Mashur Malamo. Kerajaan Tidore juga yang terkenal sebagai kerajaan dengan pengaruh besar di wilayah Maluku.
Dikutip dari buku Islam dan Peradaban Melayu karya Dr. Nyayu Soraya, M.Hum, Dr. H. Muhammad Soleh Hapudin, M.Si, Maryam, S.Ag.M.Hum, berikut ini penjelasan lengkap tentang kehidupan ekonomi dari Kerajaan Tidore.
Kehidupan Ekonomi Kerajaan Tidore
Kerajaan Tidore memang memiliki pengaruh besar di wilayah Maluku pada masa lalu. Hal ini juga yang membuat kehidupan ekonomi Kerajaan Tidore jauh lebih baik daripada kerajaan lainnya karena perdagangan rempah-rempah.
Pada masa kejayaannya, Kerajaan Tidore berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke Sulawesi Utara, Papua, dan Timor. Sehingga membuat kekayaan dan kehidupan kerajaan dan masyarakat disekitarnya menjadi jauh lebih baik.
Kerajaan Tidore sendiri merupakan kerajaan yang bercorak Islam. Tidak heran jika kehidupan sehari-hari masyarakat Tidore banyak menggunakan hukum Islam.
Hal ini dapat dilihat pada saat Sultan Nuku dari Tidore dengan De Mesquita dari Portugal yang melakukan permainan. Keduanya melakukan perdamaian dengan cara yang berbeda, yaitu dengan mengangkat sumpah di bawah kitab suci Al-Qur'an.
Kerajaan Tidore juga terkenal sebagai pusat perdagangan rempah-rempah bagi masyarakat Indonesia hingga bangsa asing. Rempah-rempah dapat dengan mudah ditemukan di Maluku dengan harga kualitas yang lebih baik dari daerah lain.
Sebagai penghasil rempah-rempah, Tidore banyak didatangi oleh bangsa-bangsa Eropa. Bangsa Eropa yang dapat ke Maluku sangat beragam, antara lain Bangsa Spanyol, Belanda dan Portugis.
Selain perdagangan rempah-rempah, Kerajaan Tidore juga memiliki sumber daya alam yang kaya seperti perak, emas, mutiara, dan kayu Cendana. Bahkan Kerajaan Tidore juga mengembangkan pertanian, kerajinan tangan, perikanan sebagai sumber penghidupan masyarakat Tidore.
Kehidupan ekonomi Kerajaan Tidore memang lebih baik, apalagi saat masa kejayaannya yang berhasil menguasai berbagai daerah di sekitarnya. Selain menjadi pusat perdagangan rempah-rempah, Kerajaan Tidore juga berkembang di sektor lainnya agar kehidupan masyarakat jauh lebih maju. (DSI)
