Kerajaan Khmer: Sejarah, Pendiri, Masa Kejayaan, dan Masa Keruntuhannya

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kerajaan Khmer merupakan salah satu kerajaan terbesar yang pernah berdiri di Asia Tenggara dan memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah kawasan tersebut.
Kerajaan ini memiliki catatan menarik mulai dari siapa pendiri pertamanya, bagaimana kerajaan ini mencapai masa kejayaan, hingga akhirnya mengalami masa keruntuhannya.
Kejayaan Khmer tercermin dalam peninggalan-peninggalan megah seperti Angkor Wat yang hingga kini menjadi simbol kejayaan masa lampau.
Sejarah Kerajaan Khmer
Dikutip dari laman p2k.stekom.ac.id, Sejarah Kerajaan Khmer, juga dikenal sebagai Kekaisaran Khmer, berdiri sejak tahun 802 –1432 M.
Ia bermula setelah memisahkan diri dari kerajaan Chenla, dan berkembang menjadi kerajaan agrikultural terbesar di Asia Tenggara dengan pusat di wilayah yang kini adalah Kamboja, serta bagian dari Laos, Thailand, dan Vietnam.
Periode ini sering disebut sebagai “periode Angkor” karena ibu kotanya di Angkor. Perkembangan pesat terjadi pada budaya, arsitektur, pertanian, dan sistem hidraulik, meninggalkan warisan besar seperti Angkor Wat dan Bayon.
Pendiri Kerajaan Khmer
Dikutip dari laman p2k.stekom.ac.id, Pendiri kerajaan ini adalah Jayavarman II, yang dinobatkan sebagai raja pada tahun 802 di Gunung Mahendraparvata (Phnom Kulen).
Ia sebelumnya mendirikan ibu kota di Indrapura pada sekitar 781 M dan kemudian memindahkan pusat pemerintahan ke Mahendraparvata sebelum menegaskan kedaulatan politiknya.
Masa Kejayaan Kerajaan Khmer
Periode kejayaan berlangsung dari abad ke-11 sampai ke-13 M, saat kerajaan mencapai puncak kemakmuran, kekuatan politik, dan keagungan arsitektur.
Pada era Suryavarman II (1113–1150), Angkor Wat yang megah dibangun selama kurang lebih 37 tahun, menjadi lambang arsitektur Khmer klasik dan spiritualitas Hindu-Vishnu.
Selanjutnya, Jayavarman VII (1181–1218) memperluas kerajaan, memperkuat agama Buddha Mahayana dan mendirikan Angkor Thom dengan candi Bayon yang ikonik.
Ia juga membangun banyak fasilitas publik seperti rumah sakit, jalan, jembatan, dan rumah peristirahatan sepanjang jaringan kerajaan.
Populasi kawasan Angkor pada puncak kejayaannya sekitar 700.000–900.000 jiwa, menjadikannya salah satu kota terbesar dan terpadat sebelum era industri.. Infrastruktur hidraulik yang maju (waduk dan kanal) memungkinkan pertanian intensif dan stabilitas jangka panjang.
Masa Keruntuhan Kerajaan Khmer
Kehancuran pemerintahan Angkor dimulai saat Ayutthaya (Siam) menyerang dan menguasai Angkor pada 1431 atau 1432, membuat pemimpin Khmer terpaksa pindah ke Phnom Penh.
Beberapa faktor internal yang mempercepat keruntuhan antara lain kegagalan sistem hidraulik akibat banjir dan kekeringan, migrasi penduduk ke tepi Sungai Mekong, serta kemunduran ekonomi dan politik.
Setelah serangan Ayutthaya, pusat kekuasaan berpindah secara bergantian antara Phnom Penh, Longvek, dan Oudong, memasuki periode yang dikenal sebagai “Zaman Kegelapan” (pertengahan abad ke‑15 hingga abad ke‑17), dengan kemunduran politik dan budaya yang signifikan.
Itulah ringkasan tentang Kerajaan Khmer, mulai dari sejarah, pendiri, masa kejayaan, hingga keruntuhannya yang meninggalkan warisan budaya besar bagi peradaban Asia Tenggara hingga kini. (YOLAN)
Baca juga: Rangkuman Materi Sejarah Kerajaan Sriwijaya di Indonesia
