Kisah Allioedin, Sultan Banten yang Membantu Pemerintah Amerika

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kisah Allioedin sebagai Sultan Banten yang membantu pemerintah Amerika mungkin masih terdengar asing di telinga masyarakat. Padalah, ia dikenal sebagai sosok yang visioner dan terbuka.
Selain itu, terdapat pula kisah Allioedin sebagai raja pertama yang memberi pengakuan kepada George Washington, presiden pertama Amerika Serikat. Untuk penjelasan lebih lengkap, simak di bawah ini.
Kisah Allioedin sebagai Sultan Banten
Sultan Abdul Mafaikh Muhammad Aliyuddin atau Allioedin merupakan salah satu raja Kesultanan Banten yang memerintah pada tahun 1773 hingga 1779, tepatnya saat VOC berkuasa di Nusantara.
Dikutip dari buku Ragam Pusaka Budaya Banten karya Drs. H. Tri Hatmadj, pada pemerintahan Allioedin, Belanda mewajibkan rakyat Banten yang berusia lebih dari 16 tahun dan berbadan sehat, untuk menanam 500 batang pohon lada.
Setelah masa panen, hasil lada tersebut harus dijual pada VOC, dengan pembayaran yang dilakukan secara barter. Karena itu, rakyat hampir tidak pernah mendapatkan keuntungan.
Selain itu, terdapat juga kisah Allioedin sebagai raja Banten yang memberikan bantuan kepada pemerintah Amerika Serikat. Hal ini diawali dengan berdirinya AS pada 4 Juli 1776.
Kabarnya pada saat itu, Sultan Allioedin memberikan pinjaman keuangan kepada pemerintah AS sebanyak ribuan ton emas. Ada pula cerita yang menyebutkan bahwa Sultan Allioedin adalah raja pertama yang memberi pengakuan jabatan pada George Washington.
Setelah mendengar kabar ini, Inggris pun merasa marah, hingga akhirnya menjadi tonggak awal keruntuhan Kesultanan Banten.
Runtuhnya Kesultanan Banten
Sebelum mengalami perselisihan dengan Inggris, Banten sudah lebih dulu mengalami konflik internal, yakni terjadinya perpecahan antara Sultan Ageng dan putranya, yakni Sultan Haji.
Perseteruan ayah dan anak itu terjadi akibat berselisih paham dan perebutan kekuasaan. Kemenangan pun diraih oleh Sultan Haji, yang saat itu dibantu oleh kekuatan VOC.
Akibatnya, Kesultanan Banten harus menerima konsekuensi berat, di mana mereka wajib menyerahkan pusat perdagangan lada di Palembang, serta beberapa wilayah kekuasaan pada VOC.
Setelah peristiwa ini, Kesultanan Banten pun semakin melemah saat Inggris menyerang Sultan terakhir. Akhirnya, Kesultanan ini mengalami kejatuhan pada tahun 1813. (RN)
