Kondisi Sosial Politik Budaya Kerajaan Malaka

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kerajaan Malaka tumbuh di sekitar pelabuhan Malaka, menjadi kesultanan Islam yang paling berpengaruh di wilayah Sumatra dan Semenanjung Malaka. Hal tersebut tentunya memengaruhi kondisi sosial politik budaya Kerajaan Malaka di masa kejayaannya.
Pertumbuhan kerajaan dipengaruhi oleh perdagangan internasional Samudra Hindia, Selat Malaka, dan Laut Cina Selatan yang dilakukan oleh para pedagang Islam.
Di bawah ini akan dibahas lebih jauh mengenai kondisi sosial politik budaya Kerajaan Malaka.
Kondisi Sosial Kerajaan Malaka
Kondisi sosial saat itu dipengaruhi oleh letak, keadaan alam, dan lingkungan wilayah. Kerajaan Malaka yang berfokus pada kegiatan perdagangan maritim, cenderung individualis.
Oleh karena itu, muncul beberapa kelompok masyarakat yang dibedakan berdasarkan status ekonomi. Secara tak langsung, perbedaan signifikan itu juga yang akhirnya memengaruhi bidang politik dan pertahanan.
Kondisi Politik Kerajaan Malaka
Dirangkum dari dari buku Sejarah untuk Kelas XI oleh Nana Supriatna, struktur politik di Kerajaan Malaka terdiri dari beberapa lapis.
Struktur politik di Kerajaan Malaka dipimpin oleh seorang sultan yang membawahi patih. Patih membawahi semua pejabat tinggi kesultanan, seperti bendahara, laksamana, dan bupati.
Bendahara bertugas mengurus pengadilan, pajak, keuangan, dan berwenang memberi hukuman mati. Sedangkan, laksamana bertugas memimpin angkatan laut juga pengawal keluarga sultan.
Sedangkan di tingkat bawah, ada tumenggung dan syahbandar yang berkaitan erat dengan perdagangan. Terakhir ada para bangsawan dan juga ksatria.
Kondisi Budaya Kerajaan Malaka
Dikutip dari buku Islam dan Peradaban Melayu karya Nyanyu Soraya, perkembangan seni sastra Melayu mengalami perkembangan sangat pesat di Kerajaan Malaka.
Karya sastra menggambarkan kisah para tokoh kepahlawanan dari Kerajaan Malaka, seperti Hikayat Hang Tuah, Hikayat Hang Lekir, dan Hikayat Hang Jebat.
Saat itu, bahasa Melayu memang merupakan bahasa pengantar terutama bagi bangsa-bangsa yang berasal dari Indonesia agar komunikasi berjalan lancar.
Namun, Kerajaan Malaka lemah dalam bidang pertahanan. Penyebabnya adalah gaya hidup feodal dan mewah dengan kekayaan yang berasal dari upeti para petani.
Pada akhirnya, Kerajaan Malaka ditaklukkan dengan mudah oleh Portugis pada tahun 1511. Demikian adalah kondisi sosial politik budaya Kerajaan Malaka. (SP)
