Konten dari Pengguna

Larangan Tidur setelah Maghrib dalam Perspektif Tradisi dan Kesehatan

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Larangan Tidur Setelah Maghrib. Unsplash/Andrej Lišakov
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Larangan Tidur Setelah Maghrib. Unsplash/Andrej Lišakov

Larangan tidur setelah maghrib tercatat dalam literatur keislaman Jawa abad kesembilan belas dan tetap dijadikan pedoman harian.

Dikutip dari buku Adab Malam Menurut Nabi, Hamka, 2005:67 disebutkan bahwa Rasulullah menolak tidur petang karena melemahkan zikir keluarga.

Tidur senja diyakini membuka celah gangguan gaib. Selain fungsi spiritual, pantangan tersebut menjaga irama komunitas agraris yang memanfaatkan cahaya surya terakhir untuk merapikan alat kerja.

Larangan Tidur Setelah Maghrib

Ilustrasi Larangan Tidur Setelah Maghrib. Unsplash/Greg Pappas

Pantangan ini menata ritme sosial desa. Jam maghrib dipakai berkumpul di surau sehingga percakapan antartetangga terpelihara.

Di Aceh, berkeyakinan roh jahat berkeliaran saat matahari tenggelam, terlelap pada waktu itu dianggap mengundang kerasukan.

Sementara itu, di Madura, bedug maghrib disusul perintah orang tua agar anak mengulang hafalan juz amma sambil berjaga.

Praktik praktik tersebut menegaskan bahwa larangan tidur setelah maghrib bukan sekadar takhayul melainkan pranata kolektif yang merawat ibadah, keamanan rumah, dan kohesi warga.

Perspektif Kesehatan dan Kronobiologi

Ilustrasi Larangan Tidur Setelah Maghrib. Unsplash/Annie Spratt

Penelitian kronobiologi modern menguatkan sebagian alasan tradisional.

Tidur terlalu awal memecah pelepasan melatonin sehingga penderitanya mudah terbangun tengah malam lalu mengalami insomnia berulang.

Korelasi kebiasaan tidur selepas senja dengan kenaikan kadar kortisol dan gejala depresi pada pekerja shift. Jeda dua jam antara makan malam dan tidur membantu pencernaan, menurunkan risiko refluks, dan menjaga berat badan.

Fakta tersebut membuktikan kearifan lokal kerap selaras dengan mekanisme biologis walau lahir jauh sebelum laboratorium modern.

Larangan tidur setelah maghrib menautkan warisan adat dengan temuan ilmiah dalam nasihat sederhana mengenai pemanfaatan senja.

Tradisi memastikan masyarakat melaksanakan salat berjemaah, memperkuat relasi sosial, serta memberi ruang refleksi sebelum malam.

Ilmu kesehatan menegaskan pentingnya ritme sirkadian stabil demi kualitas tidur, mood, dan metabolisme.

Selama prinsip ini dipegang dengan kesadaran, larangan tidur setelah maghrib akan terus menjaga kesehatan fisik, mental, dan spiritual lintas generasi di tengah arus gawai yang sering menggoda mata tetap terbuka hingga larut.

Larangan ini seharusnya tidak dilihat sebagai sekadar warisan budaya lama, tetapi sebagai pedoman hidup yang tetap relevan. (Anggie)

Baca Juga: Apakah Marga Boleh Disingkat Jika Terlalu Panjang? Inilah Jawabannya