Latar Belakang Pemberontakan PRRI Permesta beserta Tokohnya

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemberontakan PRRI Permesta merupakan pemberontakan yang terjadi setelah Belanda mengakui kedaulatan NKRI pada tahun 1957. Gerakan dalam pemberontakan ini disebut dengan Permesta atau Perjuangan Rakyat Semesta.
Perlu diketahui bahwa pemberontakan ini berawal dari kekecewaan angkatan militer daerah terhadap pusat, khususnya di wilayah Sumatra dan Sulawesi. Selain itu, ada juga latar belakang lain yang membuat pemberontakan di Sumatera dan Sulawesi ini terjadi.
Dikutip dari buku Ensiklopedia Pelajar dan Umum karya Gamal Komandoko, berikut penjelasan lengkap tentang latar belakang pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).
Latar Belakang Pemberontakan PRRI Permesta
Pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) meletus di Sumatera. Latar belakang dari pemberontakan PRRI Permesta ini adalah adanya hubungan yang tidak harmonis antara pusat dan daerah setelah Belanda mengakui kedaulatan NKRI.
Hubungan yang tidak harmonis ini terkait otonomi daerah dan ketidakadilan masalah perimbangan keuangan antara daerah dan pusat. Sebelumnya, sudah ada dewan-dewan daerah yang terbentuk untuk menuntut perimbangan keuangan yang adil antara daerah dan pusat.
Dewan-dewan tersebut antara lain:
Dewan Banteng di Sumatera Barat, tepatnya Padang yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Achmad Husein.
Dewan Gajah di Medan Sumatera Utara yang dipimpin oleh Kolonel Mauluddin Simbolon.
Dewan Garuda di Palembang Sumatera Selatan yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Barlian.
Pada 10 Februari 1958, Letnan Kolonel Achmad Husein menuntut agar Kabinet Juanda dibubarkan dalam waktu 5 × 24 jam. Karena tidak mendapat tanggapan, Letnan Kolonel Achmad Husein memproklamasikan berdirinya PRRI dengan Mr. Syafruddin Prawiranegara sebagai Perdana Menteri.
Pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia ini terus berlanjut hingga dapat dipadamkan. Pada tanggal 4 Mei 1958, Pusat Gerakan PRRI di Bukittinggi berhasil direbut TNI.
Letnan Kolonel Achmad Husein kemudian menyerahkan diri pada tanggal 19 Mei 1961 yang diikuti oleh tokoh-tokoh PRRI lainnya.
Tokoh Pemberontakan PRRI Permesta
Pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) diprakasai oleh beberapa tokoh seperti:
Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Letnan Kolonel Achmad Husein, Mr. Assaat Dt. Mudo, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo, Maluddin Simbolon, Moh. Sjafei. Saladin Sarumpaet, Muchtar Lintang, J.F. Warouw, Ayah Gani Usman, Saleh Lahade, dan Dahlan Djambek.
Kesimpulannya, pemberontakan PRRI terjadi karena beberapa latar belakang terkait ekonomi antara pusat dan daerah setelah Belanda mengakui kedaulatan NKRI. Ada banyak tokoh yang terlibat dalam pemberontakan ini seperti penjelasan tersebut. (DSI)
