Marga Ambon Tertinggi yang Dikenal karena Kontribusi dalam Sejarah

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di Ambon dan Maluku, konsep marga atau fam penting dalam struktur sosial dan adat istiadat masyarakat setempat. Sering kali menjadi pertanyaan adalah apa marga Ambon tertinggi?
Artikel berikut akan menjawab pertanyaan marga Ambon tertinggi yang menarik untuk diketahui.
Marga Ambon Tertinggi
Dalam buku Studi Perdamaian dan Studi Keamanan: Sebuah Kajian Pemikiran oleh Jerry Indrawan, dikatakan bahwa Ambon memiliki berbagai sub kecil atau fam di Ambon.
Berbagai macam ras dan suku mewarnai Ambon. Hingga tidak heran konflik antar etnis juga terjadi mungkin akibat warisan dari konflik leluhur.
Di antara berbagai marga ini, sama dengan banyak budaya lain di Indonesia, tidak ada marga yang secara resmi diakui sebagai tertinggi.
Meskipun demikian, beberapa marga mungkin memiliki pengaruh historis dan sosial yang signifikan dalam masyarakat. Berikut beberapa marga yang dikenal luas di Ambon dan sekitarnya:
1. Latuharhary
Marga Latuharhary memiliki sejarah panjang dalam politik dan pemerintahan. Satu tokoh terkenal dari marga ini adalah Johannes Latuharhary, yang pernah menjadi Gubernur pertama Maluku dan juga anggota BPUPKI.
2. Matulessy
Thomas Matulessy, lebih dikenal sebagai Pattimura, adalah pahlawan nasional Indonesia dari Maluku yang memimpin perlawanan melawan Belanda pada tahun 1817. Marga Pattimura dikenal karena kontribusi mereka dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
3. Leimena
Marga Leimena juga memiliki pengaruh besar dalam bidang politik dan pemerintahan. Dr. Johannes Leimena adalah salah satu tokoh penting yang pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia dan Menteri Kesehatan.
4. Manuhutu
Anggota marga Manuhutu banyak yang berkontribusi dalam bidang politik, pemerintahan, dan pendidikan. Marga ini juga dikenal dalam konteks sejarah perjuangan kemerdekaan.
5. Soumokil
Anggota marga Soumokil memiliki pengaruh dalam politik dan sejarah Maluku. Chris Soumokil adalah presiden Republik Maluku Selatan (RMS) yang memproklamasikan kemerdekaan Maluku dari Indonesia pada tahun 1950, meskipun akhirnya RMS tidak diakui dan Soumokil dieksekusi oleh pemerintah Indonesia.
Masyarakat Ambon umumnya menghargai prinsip egalitarianisme dan tidak ada hierarki resmi yang mengakui satu marga sebagai lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain.
Namun, pengaruh dan prestise individu dari marga tertentu dalam sejarah dan masyarakat dapat memberikan marga tersebut pengakuan yang signifikan sebagai marga Ambon tertinggi. (SP)
