Memahami Kepercayaan Henoteisme yang Berkembang di Mesir

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Henoteisme adalah sebuah teori pemahaman tentang Tuhan yang terjadi antara politeisme dan monoteisme. Henoteisme dianggap sebagai peralihan dari keyakinan mengenai banyak Tuhan menuju Tuhan hanya satu.
Di bawah ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai kepercayaan Henoteisme yang berkembang di Mesir.
Kepercayaan Henoteisme
Henoteisme memiliki beberapa pengertian berdasarkan buku Relasi dengan Tuhan karya Antonius Atoshoki. Berikut penjelasannya:
Pertama adalah bahwa yang berkuasa atas dunia ini bukan banyak, melainkan satu. Tetapi, penguasa di satu tempat akan berbeda dengan tempat lainnya.
Kedua, ada banyak dewa, tetapi hanya satu yang mahakuasa.
Ketiga, dewa atau penguasa di satu zaman berbeda dengan penguasa di zaman lain.
Sedangkan, pengertian henoteisme menurut KBBI adalah keyakinan pada satu Tuhan tanpa mengingkari adanya dewa lain dan makhluk halus.
F. Max Muller merupakan orang pertama yang mengungkap istilah henoteisme pada abad ke-19. Pemikiran tentang henoteisme ini tercetus saat Muller membaca Kitab Weda.
Tokoh lain yang menggunakan istilah ini adalah Friedrich Schelling dan Hank S. Versnel. Versnel bahkan menggunakan istilah tersebut untuk membaca sistem kepercayaan Romawi.
Keyakinan ini mulai memberi tempat pada sebuah pemahaman mengenai Tuhan Yang Esa sekaligus masih menampung pemahaman yang berkembang sebelumnya mengenai Tuhan yang banyak.
Awal mulanya, kepercayaan henoteisme muncul di Mesir dan Israel. Kepercayaan ini lahir dari ketidakpuasan para filosof mengenai politeisme.
Mereka mencoba mencari sistem kepercayaan yang lebih masuk akal. Kepercayaan pada satu Tuhan dianggap lebih memuaskan dan bisa diterima oleh akal sehat.
Dari sana, tumbuh aliran yang mengutamakan satu dewa untuk disembah yang dianggap sebagai kepala atau bapak dari dewa yang lain.
Sebagai contoh adalah Zeus dalam kepercayaan Yunani Kuno dan Brahmana dalam agama Hindu, berdasarkan buku Filsafat Agama karya Dedi dan Mustofa.
Di Mesir, Raja Firaun Amenhotep IV menjadikan Aton atau Dewa Matahari menjadi satu-satunya Tuhan pada abad ke-14 SM. Sedangkan, dewa lain sudah tidak perlu lagi disembah.
Demikian adalah penjelasan mengenai kepercayaan henoteisme yang berkembang di Mesir. (SP)
