Memahami Strategi Perang Batak Melawan Belanda di Indonesia

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
Konten dari Pengguna
29 September 2023 22:16 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi strategi perang batak melawan belanda, sumber foto: Mad Skillz by pexels.com
ADVERTISEMENT
Sisingamangaraja XII merupakan raja dan pendeta terakhir dari masyarakat Batak di Sumatera Utara. Ia adalah pemimpin perang Batak, strategi Perang Batak melawan Belanda sendiri dengan menggunakan strategi gerilya.
ADVERTISEMENT
Perjuangannya dalam melawan penjajah Belanda tidak perlu diragukan lagi. Ia berjuang melawan penjajahan Belanda bersama pasukannya selama hampir 30 tahun.
Dikutip dari buku Cerita Perang Kemerdekaan Indonesia karya Hayatun Nufus dan Mudjibah Utami, di bawah ini penjelasan tentang strategi dari Perang Batak melawan Belanda.

Strategi Perang Batak Melawan Belanda

Ilustrasi strategi perang batak melawan belanda, sumber foto: Mad Skillz by pexels.com
Perlawanan Raja Sisingamangaraja XII dalam melawan Belanda mencapai puncaknya pada tahun 1878. Tepatnya ketika ia memimpin pasukan Batak untuk menyerang pos-pos militer Belanda di Tarutung dan Sipoholon dengan strategi Perang Batak melawan Belanda terbaik.
Serangan ini tentu menggemparkan Belanda dan memicu perang besar-besaran antara kedua belah pihak. Dalam perang ini, Raja Sisingamangaraja XII menggunakan strategi gerilya agar bisa melumpuhkan pasukan Belanda.
ADVERTISEMENT
Beliau juga memanfaatkan keunggulan medan hutan dan pegunungan yang dikuasainya. Medan ini dimanfaatkan untuk melakukannya serangan mendadak dan menghindari pertempuran terbuka.
Senjata tradisional yang digunakan saat berperang melawan penjajah Belanda juga bermacam-macam. Seperti tombak, busur, parang, hingga sumpit yang dilumuri racun.
Hal ini juga yang membuat Belanda sangat kesulitan untuk mengejar dan menangkap Raja Sisingamangaraja XII. Bukan hanya Belanda saja yang menghadapi kesulitan, namun Raja Sisingamangaraja XII dan pasukannya juga demikian.
Mereka harus berhadapan dengan kondisi alam yang berat, kurangnya dukungan dari masyarakat setempat dan penyakit malaria. Selain itu, mereka juga harus menghadapi perlawanan dari suku-suku lain di Sumatera Utara, seperti Mandailing dan Aceh.
Perlawanan Raja Sisingamangaraja XII berlangsung cukup lama, hingga tahun 1907. Hingga pada tanggal 17 Juni 1907, Raja Sisingamangaraja XII terlibat dalam pertempuran sengit dengan pasukan Belanda di Si Onom Hudon, Dairi.
ADVERTISEMENT
Pertempuran tersebut berlangsung cukup sengit hingga Raja Sisingamangaraja XII tewas terkena tembakan senapan Belanda. Ia tewas bersama dua putranya yaitu Patuan Nagari dan Patuan Anggi.
Kematian Raja Sisingamangaraja XII ini menjadi akhir dari perlawanan Batak terhadap Belanda. Ia kemudian dikenang sebagai salah satu pahlawan nasional yang berani dan gigih melawan penjajahan Belanda.
Sebenarnya, dengan strategi Perang Batak melawan Belanda menggunakan strategi gerilya dengan senjata tradisional tersebut cukup menyulitkan Belanda. Namun Belanda tidak menyerah begitu saja, justru menggunakan berbagai macam taktik yang dapat melumpuhkan Raja Sisingamangaraja XII. (DSI)