Mengapa Belanda Sulit Menundukkan Aceh? Ini Jawabannya

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa Belanda sulit menundukkan Aceh? Hal ini disebabkan oleh rakyat Aceh yang tidak mudah dipecah belah, memiliki persatuan yang kuat, juga jiwa pantang menyerah dalam perjuangannya.
Berikut penjelasan selengkapnya tentang perjuangan masyarakat Aceh dalam melawan penjajah yang penting dipelajari.
Mengapa Belanda Sulit Menundukkan Aceh?
Perang Aceh merupakan salah satu perang terlama di dunia yang berlangsung tahun 1873-1904. Perang ini melibatkan Belanda dan Kesultanan Aceh.
Latar belakang terjadinya Perang Aceh tak lain karena ambisi Belanda untuk menguasai Aceh dengan tujuan agar posisinya semakin kuat sebab strategi perang dan jalur perdagangan yang bertambah.
Pada 17 Maret 1824, Inggris dan Belanda melakukan kesepakatan mengenai pembagian wilayah jajahan di Indonesia serta Semenanjung Malaya di mana Belanda disebut tak bisa mengganggu kemerdekaan Aceh.
Akan tetapi, kenyataannya Belanda terus berupaya untuk melancarkan serangan terhadap Aceh kendati jauh dari ibu kota.
Lalu, tahun 1871, Traktat Sumatera ditandatangani oleh Belanda dan Inggris yang membuat Aceh makin khawatir. Dalam perjanjian tersebut, Belanda diberi kebebasan guna melakukan perluasan wilayah di Sumatra, termasuk Aceh.
Usai perjanjian tersebut, Belanda langsung melancarkan serangan atau agresi pada 5 April 1873 di bawah pimpinan Jenderal JHR Kohler.
Namun, rupanya menaklukkan Aceh bukanlah hal yang mudah bagi penjajah. Melansir digilib.unila.ac.id, upaya pemerintah Belanda dalam menguasai Aceh memerlukan waktu lama.
Pemerintah Belanda menganggap Aceh sudah takluk setelah penandatanganan traktat pendek atau vorte verklaring oleh Sultan Muhammad Daun Sjah.
Traktat pendek digunakan sebagai senjata guna menaklukkan seluruh wilayah Aceh. Padahal, masyarakat Aceh tidak mundur sama sekali, tetapi justru semakin gigih dalam berjuang.
Berbagai upaya dilakukan oleh Belanda agar bisa menguasai Aceh. Mulai dari memisahkan para ulama dari rakyat, memakai tenaga para uleebalang, juga cara-cara simpatik, seperti melakukan pembangunan sarana fisik untuk pendidikan hingga pembangunan ekonomi.
Taktik tersebut ternyata masih belum bisa menundukkan Aceh. Hingga akhirnya, setelah JHR Kohler wafat dalam pertempuran melawan pasukan Aceh, Belanda kembali melancarkan serangan kedua pada Desember 1873 di bawah pimpinan Jan van Swieten.
Meski dapat menduduki keraton sultan dan membakar Masjid Baiturrahman, persiapan Belanda ternyata belum matang. Rakyat Aceh menjaga wilayah pantai, tempat masuknya kapal-kapal, dengan sangat baik.
Siasat adu domba atau pecah belah memanfaatkan orang-orang yang mudah diperalat tidak mempan. Pasukan Aceh malah makin bersatu melawan penjajah. Inilah yang menyebabkan Aceh sulit untuk ditaklukkan.
Demikian alasan mengapa Belanda sulit menundukkan Aceh. Persatuan dan semangat perjuangan masyarakat Aceh yang terus berkobar tak mampu dipadamkan oleh Belanda. Makin diserang, orang-orang Aceh justru kian memperkuat persatuan. (DN)
