Konten dari Pengguna

Mengapa Chauvinisme Dikatakan Sebagai Nasionalisme yang Negatif?

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Mengapa Chauvinisme Dikatakan Sebagai Nasionalisme yang Negatif. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Mengapa Chauvinisme Dikatakan Sebagai Nasionalisme yang Negatif. Foto: Pixabay

Mengapa chauvinisme dikatakan sebagai nasionalisme yang negatif adalah karena dianggap terlalu arogan dan percaya diri yang berlebih.

Artikel di bawah ini akan menjawab lebih lanjut pertanyaan mengapa chauvinisme dikatakan sebagai nasionalisme yang negatif yang menarik diketahui.

Alasan Mengapa Chauvinisme Dikatakan Sebagai Nasionalisme yang Negatif

Ilustrasi Mengapa Chauvinisme Dikatakan Sebagai Nasionalisme yang Negatif. Foto: Pixabay

Berdasarkan buku Kisah Politik di Tanah Indonesia karya Anisa Adi, chauvinisme diperkenalkan oleh Nicolas Chauvin yang merupakan seorang prajurit Grand Armee Napoleon pada 1839.

Chauvin sangat mengidolakan Napoleon Bonaparte dan kekaisaran lama. Sikap berlebihan inilah yang membuat Chauvin dianggap memiliki rasa kepercayaan diri yang berlebih dan merasa lebih unggul atas ras orang lain.

Istilah Chauvin akhirnya tersebar dan melebur ke dalam bahasa Inggris sejak tahun 1870 menjadi chauvinisme. Istilah tersebut juga memiliki arti yang lebih luas.

Chauvinisme menggambarkan sikap yang terlalu bias dengan menganggap berbeda terhadap kelompok yang dianggap tidak sepaham atau sejalan dengan kelompoknya.

Chauvinisme diartikan juga sebagai paham yang mengagungkan bangsa atau negara sendiri dan memandang rendah bangsa lain. Arti lain adalah memiliki sikap nasionalisme yang sempit.

Selain Nicolas Chauvin, ada lebih banyak tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah paham chauvinisme, antara lain Adolf Hitler, Bennito Mussolini, dan Tenno Heika.

Beberapa negara yang pernah menerapkan chauvinisme, antara lain Jepang, Italia, dan Jerman, yang memiliki pemimpin yang kaku, kejam, dan membenci kaum atau golongan tertentu.

Paham chauvinisme ini perlu dihindari karena kalau seseorang sudah terbutakan oleh paham tersebut, maka dampaknya akan sangat berbahaya.

Chauvinisme dapat menyebabkan penjajahan dari satu bangsa ke bangsa lain, seperti yang ditulis Hakiki dan Arisman dalam buku Pendidikan Karakter.

Contoh dari sikap chauvinisme adalah pembatasan impor atau menutup impor barang luar negeri dengan alasan memajukan produk lokal.

Contoh lainnya adalah konflik dengan latar belakang SARA, lalu merendahkan dan menyalahkan negara lain atas ketidakmampuan bangsa sendiri dalam mengatasi persoalan yang terjadi.

Demikian adalah alasan mengapa chauvinisme dikatakan sebagai nasionalisme yang negatif yang perlu dihindari. (SP)