Mengenal Operasi 17 Agustus yang Menumpas Gerakan PRRI

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Operasi 17 Agustus adalah operasi militer yang dipimpin oleh Ahmad Yani, bertujuan untuk menumpas Gerakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia).
Berdasarkan buku Ilmu Pengetahuan Sosial 3 karya Ratna, dkk, Operasi 17 Agustus berlangsung di Padang, Sumatera Barat yang melibatkan TNI Angkatan Laut, Angkatan Darat, dan Angkatan Udara.
Lalu bagaimana latar belakang, proses perjalanan, dan akhir dari Operasi 17 Agustus? Simak pembahasan lengkap mengenai sejarah Operasi 17 Agustus.
Operasi 17 Agustus
Pemberontakan PRRI terjadi ketika situasi politik sedang bergejolak. Dimana kondisi pemerintahan tidak stabil, maraknya koruptor, serta adanya perdebatan-perdebatan dalam konstituante.
Penyebab awal terjadinya pemberontakan tersebut karena adanya pertentangan antara pemerintah pusat dan daerah mengenai otonomi daerah dan perimbangan keuangan.
Bahkan, pertentangan tersebut semakin meruncing dan sikap tidak puas itu rupanya didukung oleh panglima bersenjata.
Pada 9 Januari 1958, tepatnya di Sungai Dareh, Sumatera Barat, diadakan sebuah pertemuan yang dihadiri oleh tokoh militer dan tokoh sipil.
Pertemuan tersebut bertujuan untuk membicarakan perihal pembentukan pemerintahan yang baru.
Tokoh militer yang hadir saat itu, antara lain Letkol Achmad Husein, Letkol Sumual, Kolonel Simbolon, Kolonel Dachlan Djambek, dan Kolonel Zulkifli Lubis.
Selain itu, beberapa tokoh sipil yang hadir dalam pertemuan tersebut, yaitu M Natsir, Burhanuddin Harahap, Sjarif Usman, dan Sjafruddin Prawiranegara.
Tepat pada tanggal 10 Februari 1958 diadakan rapat raksasa di Kota Padang. Bertepatan dengan hal itu, Letkol Achmad Husein memberi ultimatum pada pemerintah pusat yang berisi:
Kabinet Djuanda menyerahkan mandat kepada Presiden atau Presiden mencabut mandat Kabinet Djuanda dalam kurun waktu 5x24 jam.
Meminta Presiden agar menugaskan Drs. Moh. Hatta dan Sultan Hamengkubuwono untuk membentuk kabinet baru.
Meminta Presiden agar kembali menjadi presiden konstitusional.
Sayangnya, ultimatum tersebut ditolak. Bahkan, Letnan Achmad Husein, Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel Simbolon, serta Kolonel Djambek dipecat.
Setelah itu, Achmad Husein mendirikan PRRI pada tanggal 15 Februari 1958. Dalam pembentukannya, Achmad Husein juga membentuk kabinet yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara sebagai Perdana Menterinya.
Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) berpusat di Padang, Sumatera Barat. Bahkan, PRRI memisahkan diri dari pemerintah pusat. Kemudian diikuti oleh Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah.
Dalam usaha untuk mengatasi gerakan tersebut, TNI melakukan aksi penggabungan antar TNI AU, AD, dan AL yang dikenal dengan sebutan Operasi 17 Agustus.
Disamping itu, Brigadir Jenderal Djatikusumo melakukan operasi Sapta Marga di Sumatera Utara. Sedangkan di Sumatera Selatan, dilakukan Operasi Sadar yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Dr. Ibnu Sutowo.
Tujuan utama Operasi 17 Agustus adalah untuk menghancurkan kekuatan pemberontak dan mencegah adanya campur tangan pihak asing.
Hingga akhirnya, pada tanggal 29 Mei 1958, Achmad Husein dan pasukannya menyerah. Penyerahan diri tersebut kemudian disusul oleh tokoh PRRI yang lainnya.
Demikian adalah sejarah Operasi 17 Agustus yang patut diketahui bersama. (SP)
