Mengenal PETA, Organisasi Militer yang Bertugas Membantu Jepang

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

PETA adalah organisasi militer yang bertugas membantu Jepang dalam perang Asia Timur sekaligus menjaga kemerdekaan Indonesia. Organisasi ini dibentuk pada 3 Oktober 1943.
Tidak banyak yang tahu bahwa PETA merupakan cikal bakal terbentuknya Tentara Nasional Indonesia atau TNI yang bertugas untuk menjaga perdamaian Indonesia hingga saat ini.
PETA, Organisasi Militer Bentukan Jepang
Pembela Tanah Air atau PETA merupakan sebuah organisasi militer yang dibentuk pada tahun 1943. Tugas utamanya adalah membantu Jepang dalam perang Asia Timur Raya.
Dikutip dari buku Sejarah untuk SMP/MTs, anggota PETA berasal dari berbagai golongan masyarakat. Tetapi, terdapat beberapa pemimpin nasionalis dan Islam yang turut bergabung.
Pembentukan PETA sendiri merupakan inisiatif seorang warga negara bernama R Gatot Mangkupraja yang ternyata juga pemimpin nasionalis. Setelah peraturan Osamu Seirei keluar, organisasi militer ini pun segera dibentuk.
Sebagai tentara teritorial yang berkewajiban mempertahankan wilayah, PETA bukanlah milik organisasi manapun, dan langsung dipimpin oleh Panglima Tentara Jepang.
Karena itu, anggota PETA mendapatkan pelatihan fisik dan militer yang lebih hebat dari organisasi lain. Belum lagi, semangat untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia menjadi tujuan utama PETA.
Panglima Jepang pun turut mengajak anggota PETA untuk membangkitkan patriotisme. Mereka mengatakan bahwa pelatihan yang diberikan dapat bermanfaat untuk melindungi negara.
PETA sendiri memiliki 5 macam kepangkatan, yakni Daidanco (komandan batalyon), Cudanco (komandan kompi), Shodanco (komandan peleton), Budanco (komandan regu), dan Giyuhei (tentara sukarela).
Pemberontakan dan Pembubaran PETA
Seiring berjalannya waktu, anggota PETA beberapa kali mengalami kekecewaan terhadap Jepang. Hal ini berujung pada pemberontakan yang dilakukan oleh para anggota PETA sejak 1944.
Namun, pemberontakan terbesar terjadi pada 14 Februari 1945 di Blitar. Pada peristiwa kelam ini, komandan peleton atau Shodanco PETA, yakni Supriyadi menghilang tanpa jejak.
Setelah Indonesia mengumumkan proklamasi kemerdekaan, tentara kekaisaran Jepang pun langsung memerintahkan untuk membubarkan PETA.
Walau sudah resmi bubar, PETA masih turut ikut membantu dalam perang kemerdekaan, terutama saat Belanda mencoba menguasai Indonesia kembali.
