Mengenal Pimpinan BFO beserta Latar Belakang Berdirinya

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

BFO atau Bijeenkomst voor Federale Overleg dibentuk tanggal 7 Juli 1948. Pimpinan BFO adalah Tengku Bahriun yang kemudian digantikan oleh Sultan Hamid II.
Agar semakin paham tentang latar belakang berdirinya BFO dan siapa saja anggota BFO, simak dalam pembahasan di bawah ini!
Latar Belakang Berdirinya BFO
M. Adnan Amal dalam buku berjudul Kepulauan Rempah-Rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950 menjelaskan bahwa BFO merupakan organisasi negara-negara bagian bentukan dari Van Mook, yang dalam bulan Juli 1948 semuanya berjumlah kurang lebih 15 negara bagian.
Proses berdirinya BFO alias Majelis Permusyawaratan Federal didasari adanya pembentukan negara federasi di Indonesia.
Pejabat Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Van Mook, memiliki rencana membentuk negara federasi yang ada di Indonesia dan mengharuskan diri mengubah ketatanegaraan Indonesia.
Akan tetapi, rencana mengubah ketatanegaraan mengalami kendala. Sebab, Indonesia sudah berdiri menjadi Republik Indonesia (RI).
Van Mook kemudian mengawali rencana pembentukan negara federal lewat konferensi. Proses ini berjalan dengan tujuan menyebarluaskan federalisme di Indonesia.
Namun, rencana Van Mook gagal kembali sebab hal ini bertentangan dengan keinginan Belanda. Saat itu, Belanda ingin RI masuk dalam persemakmuran di bawah Belanda.
Selanjutnya, Van Mook menjalankan konferensi di Malino tanggal 15 Juli hingga 25 Juli 1946. Adapun hasil keputusan yang keluar, yaitu peserta konferensi menyetujui proses pengubahan ketatanegaraan di Indonesia menjadi federasi.
Konferensi menjadi tahap awal pembentukan negara federal di Indonesia, yakni Negara Indonesia Timur dan menjadi negara bagian yang berdiri pertama kali.
Pembentukan BFO oleh Van Mook, yaitu mengelola Republik Indonesia Serikat (RIS) selama Renovasi Nasional Indonesia (1945-1949).
Tanggung jawab komite ini adalah membentuk pemerintahan sementara pada 1948. Kemudian, digunakan sebagai perwakilan negara-negara bagian yang telah menjadi negara sendiri di atas binaan Belanda.
Pimpinan BFO dan Anggotanya
Semenjak BFO berdiri, ada beberapa tokoh yang dominan dalam kegiatan rapat, yakni:
Tengku Bahriun pada 7 Juli 1943 hingga 13 Januari 1949 sebagai ketua.
Sultan Hamid II dari 13 Januari 1949 hingga 17 Agustus 1950 sebagai ketua.
Anak Agung Gde Agung (Negara Indonesia Timur).
R.T. Adil Puradiredja (Pasundan).
Sultan Hamid II (Borneo Barat).
T. Mensoer (Sumatra Timur).
Demikianlah penjelasan tentang pimpinan BFO dan latar belakangnya. Semoga membantu! (Ek)
