Mengenal Suku-Suku di Pulau Jawa beserta Penjelasannya

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suku-suku di Pulau Jawa sangat beragam mengingat jumlah populasinya yang padat. Berdasarkan data sensus penduduk 2020, dari sekitar 151 juta penduduk, bisa dibilang sebagian besar warga Indonesia mendiami pulau Jawa.
Dikutip dari buku Ribuan Gunung, Ribuan Alat Batu Prasejarah Song Keplek, Gunung Sewu, Jawa Timur karya Hubert Forestier, menyebutkan bawah pulau Jawa terletak di Selatan Khatulistiwa antara 6 derajat sampai 9 derajat lintang selatan dan 105 derajat sampai 114 derajat bujur timur dengan luas permukaan sekitar 134 ribu kilometer persegi.
Suku-Suku di Pulau Jawa
Kepadatan penduduk di pulau Jawa disebabkan karena banyak kota-kota besar ada di pulau ini. Selain itu, kesuburan tanah vulkanisnya juga berhasil menarik banyak penduduk.
Berikut ini daftar suku-suku di pulau Jawa:
1. Suku Jawa
Masyarakat suku Jawa mendominasi wilayah di pulau Jawa. Mereka berasal dari Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Mayoritas masyarakat suku Jawa beragama Islam dan secara umum, tipikal orang Jawa adalah pemalu namun senang menyapa.
Selain Indonesia, masyarakat memakai bahasa Jawa untuk berkomunikasi sehari-hari. Bahasa Jawa sendiri terbagi menjadi tiga tingkatan yaitu ngoko, madya, dan krama inggil.
Ngoko dipakai untuk berbicara dengan orang yang lebih muda, sebaya atau sederajat, madya dipakai untuk berbicara formal dengan orang sebaya. Lalu krama inggil merupakan tingkatan bahasa Jawa paling halus yang biasa dipakai saat bicara dengan orang yang lebih tua.
Suku Jawa dikenal memiliki kebudayaan yang beranekaragam dan bahkan ada yang mendunia seperti kain batik, wayang kulit, alat musik gamelan, dan keris.
2. Suku Sunda
Populasi suku Sunda menempati posisi terbesar kedua di pulau Jawa. Masyarakat suku ini berasal dari bagian barat pulau Jawa. Orang Sunda dikenal ramah, sopan, dan bersahaja.
Suku Sunda memiliki kebudayaan yang usianya terbilang tua. Masa kejayaan kebudayan Sunda terjadi di masa lalu tepatnya pada masa Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Sunda. Sayangnya, kebudayaan tersebut semakin terkikis seiring perkembangan zaman.
Salah satu contohnya adalah bahasa. Selain Indonesia, bahasa yang dipakai masyarakat Sunda adalah bahasa Sunda. Namun, pemakaian bahasa Sunda sudah jarang dipakai secara penuh khususnya oleh generasi muda.
3. Suku Betawi
Suku Betawi menduduki suku terbesar keenam di Indonesia. Masyarakat suku Betawi berasal dari Jakarta. Banyak yang beranggapan bahwa suku Betawi berasal dari macam-macam suku, etnis, dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia.
Ada salah satu tradisi masyarakat Betawi yang masih lestari saat ini yaitu Palang Pintu, sebuah tradisi yang dipakai pada acara pernikahan. Selain itu ada juga tradisi roti buaya.
4. Suku Badui
Suku ini terletak di provinsi Banten, Jawa Barat. Suku Badui terbagi menjadi dua masyarakat yakni Badui Luar dan Badui Dalam.
Masyarakat suku Badui dikenal sebagai penjaga tradisi, terutama Badui Dalam. Mereka mengisolasi diri dari pengaruh dunia luar karena ingin menjaga kelestarian alam dan budaya peninggalan nenek moyang.
Mereka menolak segala bentuk teknologi masuk ke dalam wilayah mereka seperti alat elektronik, produk buatan pabrik, dan makanan kemasan. Meski begitu, kebutuhan sandang, pangan, dan papan mereka tetap tercukupi. Mereka memproduksi semua kebutuhan primer tersebut sendiri memakai metode alami agar tidak merusak lingkungan.
Bagi masyarakat Badui Dalam yang tidak kuat dengan peraturan yang berlaku tersebut, mereka boleh keluar dan menjadi masyarakat Badui Luar. Masyarakat Badui Luar dikenal sudah mengenal teknologi dan lebih modern.
5. Suku Madura
Padatnya populasi penduduk suku Madura masuk ke jajaran lima besar di Indonesia. Mayoritas penduduk suka ini beragama Islam yang berasal dari Madura dan pulau-pulau di sekitarnya.
Hal yang paling mencolok dari suku ini adalah gaya bicaranya yang tegas dan blak-blakan dengan intonasi yang keras dan kasar. Meski begitu, mereka dikenal ulet, rajin, dan disiplin. (Tia)
