Konten dari Pengguna

Mengenal Tokoh yang Menolak Kedatangan TNI di Sulawesi Selatan

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Tokoh yang Menolak Kedatangan TNI di Sulawesi Selatan. Sumber: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Tokoh yang Menolak Kedatangan TNI di Sulawesi Selatan. Sumber: Unsplash

Terdapat tokoh yang menolak kedatangan TNI di Sulawesi Selatan bernama Andi Azis. Penolakan tersebut dilakukan dengan alasan tertentu.

Dikutip dari buku Serba-Serbi Wawasan Kebangsaan oleh Yuniar Mujiwati, TNI mempunyai peran sebagai alat negara di bidang pertahanan yang dalam menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara.

Dulu, terdapat tokoh yang menolak kedatangan TNI di Sulawesi Selatan. Bagaimana kisahnya?

Tokoh yang Menolak Kedatangan TNI di Sulawesi Selatan

Ilustrasi Tokoh yang Menolak Kedatangan TNI di Sulawesi Selatan. Sumber: Unsplash

Andi Azis merupakan mantan Kapten KNIL (Koninklijk Nederlands Indische Leger) atau Tentara Kerajaan Belanda yang memiliki jabatan sebagai Letnan Ajuda Wali Negara Indonesia Timur (NIT).

Usai Konferensi Meja Bundar (KMB) dan pengakuan Belanda mengenai kedaulatan Indonesia pada akhir 1949, KNIL dibubarkan.

Mantan anggota KNIL yang masih ingin menjadi anggota angkatan perang bisa bergabung dalam APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat).

Dengan demikian, APRIS terdiri dari dua unsur, yaitu mantan anggota KNIL dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) bentukan Indonesia.

Keputusan meleburnya TNI dan KNIL ke APRIS mengundang pro kontra dari anggota KNIL itu sendiri pada beberapa daerah, termasuk di Makassar, Sulawesi Selatan.

KNIL sendiri merupakan bentukan Belanda yang terdiri dari masyarakat pribumi Indonesia serta prajurit bayaran dari Jerman, Prancis, Swiss, dan Belgia.

KNIL mempunyai tugas sesuai perintah Belanda, termasuk merebut kembali kedaulatan Indonesia pada peristiwa Agresi Militer Belanda. Sebagian KNIL menolak untuk bergabung dalam APRIS karena khawatir diperlakukan diskriminatif dan dianggap pengkhianat.

Pada 30 Maret 1950, Andi Azis dan pasukan KNIL menggabungkan diri dalam KNIL di hadapan Letnan Kolonel Ahmad Junus Mokoginta, yaitu panglima tentara dan teritorium Indonesia Timur. Andi Azis kemudian terpilih menjadi komandan kompo berpangkat kapten.

Kala itu, Makassar telah mengalami konflik antara rakyat yang anti dan pro federal. Pada 5 April 1950, tersebar kabar bahwa Pemerintah RIS mengirim 900 pasukan APRIS Jawa ke Sulawesi Selatan guna mengamankan keadaan.

Menyebarnya kabar tersebut membuat APRIS bekas KNIL merasa khawatir akan terdesak oleh pasukan yang baru datang.

Dengan dukungan dari pasukan KNIL yang tidak tergabung dalam APRIS, Andi Azis pun melakukan pemberontakan karena menolak pasukan APRIS datang ke wilayahnya.

Andi Azis menolak APRIS karena ia ingin hanya bekas KNIL yang bertanggung jawab mengenai keamanan di daerah NIT. Kelompok Andi Azis pun melawan Letkol Mokoginta dan stafnya.

Akibatnya, Andi Azis dipanggil ke Jakarta. Tetapi, perintah tersebut tidak digubris Andi Azis sampai batas waktu yang ditentukan.

Andi Azis baru menyerahkan diri pada 15 April 1950 setelah didesak oleh Presiden NIT, Tjokorda Gde Raka Sukawati.

Itu dia sekilas pembahasan mengenai Andi Azis, tokoh yang menolak kedatangan TNI di Sulawesi Selatan.(LAU)