Mengetahui Filosofi Tumpeng, Rahasia di Balik Nasi Kerucut

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa yang tidak mengenal tumpeng? Nasi berbentuk kerucut ini sering digunakan dalam berbagai acara mulai dari hajat pribadi hingga desa. Salah satu filosofi tumpeng adalah representasi antara manusia dengan sang pencipta. Kiranawati, Wibowotomo, dan Jayaningrum menegaskan dalam penelitiannya Identifikasi dan Filosofi Hidangan Tradisi Tumpeng Sewu Suku Osing di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi bahwa nasi tumpeng tidak dapat dilepaskan dengan adat kebudayaan daerah. Lantas, apa saja filosofi tumpeng bagi masyarakat? Yuk, simak penjelasan lengkapnya dalam artikel ini.
Filosofi Tumpeng
Sajian tumpeng sering dihidangkan dalam selamatan desa, ulang tahun, hingga ungkapan rasa syukur. Konon, filosofi tumpeng sangat lekat dengan adat kebiasaan masyarakat Indonesia dan Jawa pada khususnya. Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah beberapa filosofi tumpeng bagi masyarakat.
1. Wujud Rasa Syukur
Salah satu filosofi tumpang yang utama adalah sebagai wujud rasa syukur atas limpahan nikmat yang diberikan oleh sang pencipta. Hal ini berkaitan dengan kegunaan tumpeng dalam berbagai hajat, mulai dari ulang tahun, bersih desa, kenaikan jabatan, hingga berbagai jenis ritual adat. Dalam filosofi ini, biasanya suatu acara akan ada sesi berdoa yang dipimpin oleh seorang pemimpin adat atau pemimpin agama.
2. Pembeda Antara Kehidupan dan Kematian
Filosofi satu ini lekat dengan upacara adat di Jawa Tengah, yaitu pada ritual kematian di hari pertama, ketiga, ketujuh, ke-40, ke-100, hingga seribu hari. Namun, tumpeng satu ini berbeda dengan tumpeng pada umumnya. Sebab, tampilan tumpeng ini dalam dibagi menjadi dua dengan posisi saling membelakangi. Hal itu bertujuan untuk membedakan kehidupan di dunia dan di alam kematian, sehingga arwah yang meninggal tidak kebingungan saat kembali ke dunianya.
3. Konsep Ketuhanan
Filosofi tumpeng yang terakhir adalah menandakan konsep ketuhanan. Hal Ini ditunjukkan dengan bentuk tumpeng yang mirip gunung menjulang tinggi. Konsep ketuhanan ini menjelaskan bahwa Tuhan merupakan maha agung dan memiliki kedudukan tinggi. Konsep ini turut memberikan suatu kepercayaan terkait dewa di Gunung Mahameru. Bahkan, lauk dari tumpeng sendiri biasanya berjumlah tujuh yang merepresentasikan pertolongan. Demikian sejumlah filosofi tumpeng bagi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa. Kini kamu sudah paham bahwa bentuk tumpeng ini tidak dibuat secara asal, bukan? [ENF]
