Konten dari Pengguna

Mengetahui Julukan Sultan Hasanudin dan Kisah Perjuangannya

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: julukan Sultan Hasanudin. Sumber: Irgi Nur Fadil/Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: julukan Sultan Hasanudin. Sumber: Irgi Nur Fadil/Pexels.com

Sultan Hasanudin lahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Ia lahir pada 12 Januari 1631 di Ujung Pandang, Makassar, Sulawesi Selatan. Julukan Sultan Hasanudin adalah ‘Ayam Jantan Dari Timur'.

Julukan ini diberikan sebab keberaniannya melawan penjajah Belanda. Lantas, apa arti julukan tersebut dan bagaimana perjuangan Sultan Hasanudin dalam melawan penjajah? Simak ulasan berikut!

Profil Singkat Sultan Hasanuddin

Ilustrasi: julukan Sultan Hasanudin. Sumber: just baf/Pexels.com

Sebutan Sultan Hasanudin merupakan nama yang diberikan saat ia naik takhta Kerajaan Gowa. Sultan Hasanudin lahir dari pasangan Sultan Malikussaid dan I Sabbe To'mo Lakuntu.

Nama kakeknya adalah Sultan Alauddin. Ia empunyai saudara bernama I Patimang Daeng Nisaking Karaeng Bonto Je’ne.

Sultan Hasanudin meninggal dunia pada 12 Juni 1670 saat berusia 39 tahun dan dimakamkan di pemakaman yang berlokasi di bukit. Pemakaman tersebut memang diperuntukkan untuk raja-raja Gowa yang bertempat dalam benteng Kale Gowa, Kampung Tamalate.

Perjuangan Sultan Hasanuddin

Amir Hendarsah dalam buku berjudul Kisah Heroik Pahlawan Nasional Terpopuler menjelaskan bahwa, setelah Sultan Hasanuddin naik tahta ia menggabungkan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk bersama-sama berjuang melawan Belanda.

Kemudian pada tahun 1660 pecahlah perang antara Gowa dan Belanda yang diakhiri dengan perdamaian. Hal ini terjadi, sebab banyak merugikan Gowa.

Selanjutnya pada tahun 1666 Sultan Hasanuddin kembali melancarkan perlawanan kepada Belanda. Pada peperangan ini Belanda dibantu kerajaan-kerajaan yang bisa dipengaruhi.

Perlawanan terus berlangsung dan akhirnya pada tanggal 18 November 1667 diadakan perjanjian Bongaya dan ini menandakan perang berakhir.

Sayangnya perjanjian Bongaya tidak berhasil menjaga perdamaian dalam waktu lama. Sultan Hasanuddin tertekan dengan isi perjanjian tersebut.

Kemudian di bulan April 1667 Sultan Hasanuddin kembali melancarkan serangan kepada Belanda. Pada tanggal 24 Juni 1668, pertahanan paling kuat dari kerajaan Gowa yakni benteng Sombaupo jatuh dalam tangan Belanda.

Jatuhnya benteng tersebut, membuat kekuatan Sultan Hasanuddin melemah. Sultan Hasanuddin beberapa hari kemudian mengundurkan diri dari tahta dan tetap tidak mau bekerja sama dengan Belanda.

Setelah tidak menjadi seorang raja, Sultan Hasanudin banyak mencurahkan waktu mengajarkan agama Islam kepada masyarakat. Tidak lupa, ia menanamkan rasa kebangsaan juga persatuan kepada rakyatnya tersebut.

Demikianlah penjelasan tentang julukan Sultan Hasanudin dan kisah perjuangannya yang perlu diketahui. Semoga bermanfaat! (Ek)