Konten dari Pengguna

Mengulas Sosiologi Non Etis dan Penjelasannya

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sosiologi non etis. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sosiologi non etis. Foto: Pixabay

Sosiologi non etis tidak memandang tepat maupun tidak tepat, tetapi lebih pada penjelasan sebuah fenomena berdasarkan fakta dan pengamatan yang dilakukan.

Selain itu, sosiologi non etis juga menjelaskan bagaimana sisi baik maupun buruk suatu kejadian atau fenomena sosial tanpa memihak pada kelompok tertentu.

Untuk mengetahui penjelasan lebih lengkapnya, simak artikel ini.

Penjelasan Singkat Sosiologi Non Etis

Ilustrasi sosiologi non etis. Foto: Pixabay

Sosiologi termasuk ilmu sosial juga ilmu umum yang mempelajari tentang beragam aspek di masyarakat beserta pengaruhnya terhadap kehidupan.

Selain itu, salah satu ahli mengatakan bahwa sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik dari beragam gejala sosial.

Adapun pengertian sosiologi non etis adalah penjelasan baik dan buruknya suatu fenomena sosial berdasarkan pengamatan yang dilakukan sehingga hasilnya akurat. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya.

Artinya, dikutip dari ugm.ac.id, pembahasan masalah dalam sosiologi non etis ini sama sekali tidak mau mendebat mengenai baik-buruk maupun etis atau tak etis sebuah gejala sosial, melainkan hanya berfokus pada penjelasan tentang penyebab masalahnya secara analitis dan jujur.

Contoh Sosiologi Non Etis

Ilustrasi sosiologi non etis. Foto: Pexels

Contoh pertama dari sosiologi non etis adalah ketika peneliti mengamati konflik yang terjadi antara dua kelompok, sebut saja kelompok C dan D, di mana peneliti tersebut tidak memihak kepada siapa pun dan hanya berfokus pada penyebab konflik.

Contoh berikutnya, yaitu analisis terhadap penduduk yang tidak patuh protokol kesehatan ketika COVID-19 melanda. Saat itu, pemerintah mewajibkan masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan, seperti mencuci tangan dengan sabun dan menggunakan masker.

Namun, ada beberapa pihak yang enggan melakukannya. Kelompok ini bukan berarti buruk. Di sinilah peran sosiologi non etis, yakni menganalisis faktor penyebab mengapa masyarakat tidak mau menjalankan protokol kesehatan.

Beberapa contoh lain dari sosiologi non etis ini, antara lain:

  1. Analisis terjadinya tawuran pelajar: menelaah penyebab kedua kubu berseteru tanpa memihak salah satunya.

  2. Analisis anak jalanan yang menjadi pengemis: menguraikan penyebab sang anak mengemis di jalan, mulai dari mengetahui latar belakang keluarganya hingga kondisi ekonominya.

  3. Analisis penyebab seseorang menjadi pecandu narkoba: tidak melabeli seorang pecandu itu buruk, melainkan lebih berfokus untuk mencari tahu penyebab seseorang menjadi pecandu narkoba.

Demikian penjelasan tentang sosiologi non etis. Hal ini penting dan menarik untuk dipelajari sebagai tambahan ilmu pengetahuan. (DN)