Mengulik Biografi dan Sejarah Singkat Perjuangan RA Kartini

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

R.A Kartini berhasil mendobrak pemikiran tentang perempuan yang tidak boleh berkontribusi dalam hal apapun. Perjuangan menjunjung emansipasi perempuan tercatat dalam sejarah singkat perjuangan R.A Kartini.
Jasanya berhasil membuat perempuan di Indonesia sekarang dapat mengenyam pendidikan yang tinggi. Berkesempatan berpartisipasi di kursi pemerintahan dan bekerja pada profesi yang tinggi dengan kedudukan sama seperti laki-laki.
Lalu, seperti apa biografi dan kisah Kartini memperjuangkan kesejahteraan perempuan? Simak uraian berikut!
Biografi dan Sejarah Singkat Perjuangan R.A Kartini
Irma Nailul Muna dalam buku berjudul Pendidikan Feminis R.A. Kartini : Relevansi dengan Pendidikan Islam di Indonesia menjelaskan bahwa, kartini lahir pada tanggal 28 Rabiul Akhir pada tahun jawa 1808 atau 21 April 1879 di Mayong afdeling Jepara.
Raden Ajeng Kartini adalah seorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, yakni putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Kartini merupakan putri dari Istri pertama, namun bukan istri yang utama.
Dia hanya orang biasa yang dinikahi oleh Sosroningrat, yakni M. A. Ngasirah, putri Nyai Hj Siti Aminah dan Kiai Hj Madironi, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.
Sejak kecil Kartini gemar membaca dan menulis, buku yang sering dibaca berbahasa Belanda De Stille Kraacht karya Louis Coperus juga Die Waffen Nieder karya Berta von Suttner. Atas hal inilah, pada benak Kartini muncul pemikiran ala wanita Eropa yang lebih maju.
Terlebih masa itu, status sosial perempuan Indonesia masih sangat dipandang rendah. Perjuangan Kartini berawal ketika dia memutuskan membentuk sekolah khusus putri di Jepara.
Sekolah tersebut mengajarkan cara menyulam, menjahit, serta memasang. Kartini mempunyai cita-cita menjadi guru, sayangnya keinginan tersebut tidak terwujud, karena Kartini menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat.
Setelah menikah, suami mendukung cita-cita Kartini dengan memperbolehkan mendirikan sekolah khusus putri di Rembang (sekarang menjadi Gedung Pramuka).
Namun, sebelum Kartini melihat hasil perjuangannya tersebut, Kartini meninggal dunia pada 17 September 1904, empat hari setelah melahirkan putranya yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat.
Makam Kartini berada di Desa Bulu, Kec. Bulu, Rembang, Jawa Tengah. Dalam rangka mengenang jasa R.A Kartini sebagai pejuang emansipasi perempuan, didirikan Sekolah Kartini di banyak daerah. Mulai di Yogyakarta, Semarang, Madiun, Cirebon, hingga Malang.
Demikianlah sejarah singkat perjuangan R.A Kartini yang sekuat tenaga memperjuangkan emansipasi perempuan Indonesia. Semoga bermanfaat! (EK)
